Senin, 28 September 2009

Menggunjing (Ghibah)

Kalian semua harus memakai turban (menunjuk pada jemaah pria--red). Lihat! Dia memakai turban… lalu mana turbanmu? Ambil!

Kalian mendengar suara kucing itu? (kucing yang sedang berkelahi di atas genting--red). Seperti itulah yang terjadi bila kita bertengkar satu sama lain, bahkan lebih buruk daripada itu. Malaikat mendengar suara itu, demikian pula dengan Awliya. Kalian dengar bagaimana mereka saling berteriak satu sama lain.

Sebuah Hadits Rasulullah e berbunyi, “Barangsiapa yang mengunjing saudara atau saudarinya, siapa pun yang saling menggunjing… bau dari gunjingan itu sangat berbahaya.” Oleh sebab itu Rasulullah e melarang keras bergunjing.

Suatu saat Grandsyaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k memberi gambaran tentang gunjingan ini. Beliau berkata bahwa ketika seseorang meninggal dan dia dimasukkan ke dalam kuburnya, maka semua gunjingan yang telah diperbuat selama hidupnya akan dibawa serta, dan Allah I menciptakan bau busuk dari gunjingan tersebut. Bila selama hidupnya dia telah menggunjing sebanyak 100 kali, dia akan membawa 100 bau; bila 200—200 bau dan bila sejuta—dia akan membawa sejuta bau ke dalam kuburnya.

Allah I mengirimkan bau itu ke dalam kuburnya. Grandsyaikh berkata bahwa jika Allah I melepaskan satu bau itu ke dunia, maka tak satu pun makhluk dapat hidup di bumi, manusia dan makhluk lainnya akan mati bagaikan terkena reaksi berantai dari bom atom.

Dan Allah I menciptakan binatang buas dari bau-bau itu yang akan menyerang tubuh yang terbaring di sana . Bayangkan, bagaimana keadaan orang itu jika satu bau saja (bila dilepaskan ke dunia) dapat memusnahkan semua makhluk di bumi. Bagaimana dengan jutaan bau yang dikirimkan Allah I kepada orang itu di kuburnya. Bagaimana efek yang terjadi pada orang yang jiwanya dikembalikan ke tubuhnya selama dia berada dikuburnya. Dia akan mengalami hukuman dan siksa kubur yang berasal dari bau itu dan dari binatang yang diciptakan Allah I dari bau tersebut.

Grandsyaikh bercerita bahwa suatu ketika beliau pergi menuju makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi k di Jabal Qasyun mengendarai kereta kuda (pada waktu itu, jauh di masa lampau). Beliau dan seorang Syaikh lainnya yang biasa dipanggil Abdul Wahab Salahi duduk di kereta kuda menuju ke makam Sayyidina Muhyiddin Ibnu Arabi k. Tiba-tiba muncul seseorang yang menghentikan kuda penarik kereta mereka dan orang itu berkata, “Assalamu’alaykum!” Mereka membalas, “Wa alaykum salaam!” lalu dia berkata lagi kepada keduanya, kali ini pembicaraan atau ucapannya diarahkan kepada Abdul Wahhab Salahi, sambil menoleh kepada Grandsyaikh, Syaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k, “Apakah dia Syaikhmu? Atau engkau Syaikhnya?” Abdul Wahhab Salahi menjawab, “Dia bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhnya.” Tiba-tiba orang itu menghilang. Abdul Wahhab Salahi menoleh ke sana ke mari, “Ke mana dia pergi?” “Dia muncul dengan tiba-tiba dan tiba-tiba menghilang. Dia tidak berada di sini lagi.” (Ketahuilah bahwa) Awliya menampakkan dirinya kepada orang-orang yang tulus. Grandsyaikh dan Abdul Wahhab Salahi, keduanya adalah orang-orang yang tulus sehingga Awliya menampakkan dirinya kepada mereka. Tetapi sekarang orang-orang berkata, “Mana Awliya… mana?” Khususnya dengan mentalitas baru yang tidak percaya kepada karomah. “Di mana Awliya…?” Kalian jatuh ke dalam lubang yang penuh dengan kotoran dan kalian berkata, “Mana Awliya?” Bagaimana mungkin kalian akan melihatnya? Kalian harus menjadi orang yang tulus untuk bisa bertemu dengannya.

Mereka bertanya kepada Ibu Firdaus, “Di mana Awliya? Apa itu Awliya? Kami tidak melihat apa pun.” Mereka bertanya kepada kalian, “Mana…mana Awliya, kami tidak melihat apa-apa.” Karena mereka tidak percaya, Awliya tidak akan menampakkan dirinya kepada mereka. Awliya tidak akan menunjukkan keajaibannya kepada mereka, tetapi kepada orang-orang yang percaya, seperti Ibu Firdaus, seperti anda dan seperti orang-orang yang hadir di sini, mereka akan menjumpai keajaiban dalam setiap gerakan yang dilakukan oleh Syaikh.

Ketika Saya masih muda, setiap gerakan dari Grandsyaikh Syaikh Abdullah Fa’iz ad-Daghestani k dan Maulana Syaikh Muhammad Nazhim al-Haqqani k ketika itu, ketika Saya masih sangat muda… dalam setiap gerakan mereka, Saya melihat suatu karomah.

Karena ketika kalian mempunyai keyakinan, mereka akan mempelihatkannya kepadamu. Ketika kalian yakin dengan apa yang kalian kerjakan, mereka akan memperlihatkannya (karomah-red) kepadamu. Bila kalian tidak mempunyai keyakinan seperti ini, untuk apa mereka menunjukkannya kepada kalian. Sebab kalian tidak menghargai berlian, Awliya hanya akan memberi kalian permen dan kalian sudah puas dengan itu. Mereka tidak memberi kalian gula, melainkan pemanis buatan yang berkalori rendah, tidak berenergi dan tidak berarti apa-apa. Barang siapa yang sakit, ambilah pemanis buatan itu, kalian tahu, ini tidak akan membuat gemuk. Tetapi bagi mereka yang kuat, Awliya akan memberikan gula yang berenergi, artinya mereka memberi dukungan penuh kepadanya.

Abdul Wahhab Salahi adalah seorang yang tulus, mukhlis sehingga Wali muncul di hadapannya; tetapi dia belum mencapai tingkat yang sempurna, sehingga ketika dia mengatakan, “Dia bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhnya,”--Wali itu langsung menghilang, tidak menyukainya. Dia berkata, “Wahai Syaikh Abdullah k! Orang itu menghilang… siapa dia?” Syaikh Abdullah k menjawab, “Tidak! Orang itu tidak menghilang, dia masih berdiri di sana … buktinya lihat! Dia menarik kuda itu dan sekarang keretanya mulai bergerak. Abdul Wahhab Salahi melihat kuda itu bergerak, tali kekangnya tertarik tetapi dia tidak melihat orang yang menariknya… dan kereta pun mulai berjalan.

Abdul Wahhab Salahi berkata, “Mengapa dia lenyap?” Syaikh Abdullah k menjawab, “Dia tidak menyukai ucapanmu.” Syaikh Abdullah k berkata bahwa Wali-Wali itu sangat suci, bila mereka mencium bau busuk sedikit saja, mereka akan menghindar. “Ketika engkau mengatakan bahwa engkau bukan Syaikhku dan Aku bukan Syaikhmu—dia mencium adanya aroma kesombongan dalam ucapanmu, itulah sebabnya dia menghilang. Dan ini bukan merupakan gunjingan. Ini hanyalah ucapan biasa yang dapat diucapkan oleh siapa saja, namun tetap saja ucapan itu mengundang bau busuk di hadapan Awliya. Apa salahnya jika engkau berkata, ‘Ya dia adalah Syaikhku,’ apa ruginya? Engkau tidak kehilangan apa-apa, engkau melangkahi egomu… tetapi karena kesombongan diri, engkau berkata, “Tidak, dia bukan Syaikhku.” (Sebab Abdul Wahhab Salahi berkata, “Syaikhku dan Syaikhnya adalah satu, yaitu Syaikh Syarafuddin k.”) Apa salahnya untuk bilang bahwa dia adalah Syaikhku, apa ada masalah?

Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Berny Syaikhmu?” “Ya, dia adalah Syaikhku,” apa ada masalah? Jika mereka bertanya kepadamu, “Apakah Bubby Syaikhmu?” “Ya, dia adalah Syaikhku.” Jika mereka bertanya kepada Saya, “Apakah Haji Mustafa, Pak Mus adalah Syaikhmu?” “Ya, tentu saja, Saya mencium tangannya dan Saya mencium kakinya.” Tidak ada masalah!

Bau dari percakapan tadi membuat Wali itu pergi. Bagaimana menurut kalian, pada saat kita sedang shalat dan mengucapkan “Allahu Akbar” lalu muncul ratusan dan ribuan kekhawatiran atau gosip yang dibisikkan Setan ke telinga kita dan kita memikirkannya, “Oh, Mustafa adalah orang yang tidak baik, Oh Berny yang paling buruk, Oh Bubby gila, Oh Bapak dan Ibu Firdaus… Aku tidak mau makan dari makanan mereka. “ Ini dan itu… dan orang-orang mulai mempunyai gosip dalam pikirannya. Bagaimana malaikat akan membawa shalatmu ke Hadirat Allah I, jika mereka pergi karena mencium bau busuk ini? Artinya shalat kalian tetap berada di tempat, tidak diterima (oleh Allah I)… shalat itu hanya diterima sebagai ibadah fardu, artinya kalian memang mengerjakan kewajiban kalian… tetapi itu tidak diterima sebagai ibadah yang sempurna. Dia tetap berada di tempatnya. Untuk itulah kita harus berhati-hati agar tidak membawa isu-isu yang telah terjadi sebelumnya dan menyebarkannya mulai dari satu kepada yang lain sehingga menjadi gunjingan.

Allah I adalah SATTAR, Maha Menyembunyikan. Allah I Maha Mengetahui segala perbuatan kalian, perbuatan baik maupun buruk. Dan Dia tidak melepaskan atau mengeksposnya kepada orang lain. Dia melindungi dan tidak membiarkan kalian terekspos bagi orang lain. Tetapi manusia adalah seburuk-buruk pengekspos kesalahan orang lain. Grandsyaikh melukiskan mereka bagaikan seekor lalat hitam yang selalu pergi ke tempat-tempat yang kotor. Di mana ada sampah, kotoran, WC, toilet, atau apa pun yang kotor kalian akan menjumpai lalat-lalat ini beterbangan. Seperti halnya surat kabar dan majalah-majalah ini. Mereka mengejar setiap orang, menggoyang kehidupan mereka, apa yang mereka lalukan terhadap istrinya,… dia menipunya… dia tidak menipunya… dia nikah 10 kali, 100 kali, 5 kali… apa saja usaha mereka… apa yang mereka lakukan… koran dan majalah sangat senang mengambil apa saja, bahkan sampai hal-hal yang terkecil untuk menciptakan fitna dan kebingungan di negri ini.

Grandsyaikh memberi ilustrasi (semoga Allah I mensucikan jiwanya ketika menerangkan hal ini). Seperti orang yang mempunyai hewan-hewan ternak di kebunnya, biri-biri, lembu dan hewan lainnya; kemudian dia melihat kebun tetangganya dan berkata, “Lihat! Banyak nyamuk di pohonmu,” sementara itu dia sendiri melupakan kebunnya yang kemasukan binatang buas dan mulai memangsa semua biri-biri dan lembunya, tetapi dia lebih memperhatikan nyamuk-nyamuk yang terbang di kebun tetangganya.

Jadi kalian harus mengetahui bahwa gunjingan semacam ini adalah hal terlarang. Dan jika kita mampu, kita akan terus menggunjing semua orang bahkan sampai Nabi Adam u. Ini adalah tabiat alami manusia dan jalan satu-satunya untuk menyelamatkan dirimu dari gunjingan ini adalah melalui disiplin thariqat, di mana kita diharuskan untuk membaca “Ya Shamad” 500 kali setiap hari (setelah shalat syukur—red). Catatan penerjemah: Mengucapkan Nama “Ya Shamad” “Wahai Zat Tempat Meminta” esensinya adalah untuk memangkas bibit-bibit keburukan yang secara alami ada pada setiap orang.

Mereka berkata, “Mengapa kalian membutuhkan pemandu, mengapa kalian membutuhkan seorang Syaikh?” Seorang Syaikh adalah pembimbing kalian, dia akan mengatakan kepadamu apa yang harus kalian lakukan dan bagaimana cara menghindari gunjingan seperti ini, kalau tidak kalian akan lihat bahwa setiap orang saling menggunjing satu sama lain. Sekarang, orang-orang dengan keyakinan tertentu bertanya, “Mengapa kalian memerlukan seorang Syaikh? Mengapa kalian membutuhkan pembimbing?” Bagaimana kalian akan mempelajari hal-hal seperti ini tanpa seorang pembimbing, seorang Syaikh? Kalian akan tetap menggunjing orang lain.

Semoga Allah I memaafkan kita, semoga Allah I memberi dukungan kepada kita, semoga Allah I membimbing kita ke jalan yang benar, jalur yang benar dari sunnah Nabi e. Rabbanaa taqabbal minna bi hurmatil habib bi hurmatil faatiha. Taqabballaah.

Siapa Syaikhmu?…setiap orang…

Wa min Allah at taufiq

Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani

Jakarta , Februari 2002

Jangan Khawatir

Rasulullah e menekankan sebuah nasihat yang sangat baik kepada seluruh manusia, “Bila kalian bangun di pagi hari dalam keadaan utuh, tidak kekurangan sesuatu, kalian dan keluarga kalian berada dalam keadaan sehat wal afiat, maka jangan bebani diri kalian dengan kekhawatiran.”

Rasulullah e menasihati agar kita tidak membuat masalah bagi diri kita. Jika ada masalah yang sangat penting dan mendesak, itu lain soal. Tetapi banyak sekali “masalah” dalam pikiran manusia yang sebenarnya bukan masalah sama sekali, melainkan hanya pikiran (buruk) mereka saja. Itu semua adalah “masalah yang terproyeksi” yang mungkin bisa terwujud atau tidak sama sekali. Ini adalah masalah yang sering dialami oleh orang-orang di abad ke-21 ini. Orang-orang menderita terhadap kemungkinan terjadinya penderitaan di masa depan. Akibat kecemasan saraf yang mereka alami, mereka bisa mengalami penderitaan yang panjang meskipun tak satu pun yang mereka khawatirkan akan terwujud. Ini adalah suatu simbol kebodohan!

Setiap hari kita dibebani dengan beban mingguan, bulanan dan tahunan. Mengapa kalian membawa muatan seperti itu bila kalian dapat berjalan tanpa beban? Kalian juga akan menemukan bahwa semua yang kalian butuhkan telah menanti kedatangan kalian di setiap tempat perhentian dalam perjalanan kalian. Kalian hanya hadir di sini dan sekarang. Esok “kalian” hanyalah sebuah fantasi, sebagaimana kalian tidak tahu jika kalian hidup selama itu. Dengan menemukan begitu banyak masalah dalam diri kalian, kalian hanya akan menyakiti diri sendiri. Apakah nasihat Rasulullah e ini tidak cukup membuktikan kesetiaan beliau untuk membimbing orang menuju kebahagiaan?

Allah I tidak ingin hamba-hamba- Nya menderita kesulitan yang tidak berguna. Dia berfirman, “Wahai hamba-Ku, jangan bebani dirimu dengan kekhawatiran mengenai masa depan. Kalian cukup membiarkan agar dirimu sejalan dengan Kehendak-Ku dan setuju dengan maksud-Ku saat ini, lalu sisanya dijamin bahwa Aku akan menjaga masa depanmu agar sejalan dengan Kehendak-Ku.”

Mungkin kalian akan mengerti maksud Saya dengan contoh berikut. Ketika sebuah rel baru dipasang, sebelum lokomotif dan kereta melalui rel itu, sebuah kart beroda dua pertama kali dikirim ke sana untuk mengecek apakah lintasan tersebut sudah terpasang dengan baik dan lurus. Dengan cara yang sama, jika kalian dapat meluruskan jalan kalian sesuai dengan Kehendak Tuhan walaupun hanya beberapa saat, tanpa membawa beban berat kalian bisa merasa yakin bahwa jalanmu itu sudah benar, dan bila waktu berjalan dengan berat dan begitu banyak beban dalam lokomotifmu, jalur kalian sudah benar dan lurus sehingga kalian dapat melewatinya dengan lancar. Sebuah solusi bagi masalah saat ini adalah jalan keluar bagi masalah di tahun berikutnya.

Ketika Saya berada di sini, di Barat, setiap hari Saya menghadapi orang yang membawa masalah antisipasi yang berat. Betapa sulit di dunia yang modern ini untuk lepas dari perspektif seperti ini dan untuk berkonsentrasi pada momen untuk menempatkannya dengan baik dan benar. Dengan 10 dari ribuan masalah di hadapanmu sekaligus, bagaimana mungkin ada sebuah solusi? Saya sering melihat orang yang berlari ke dalam masjid, melakukan shalat dengan cepat, kemudian kembali lagi keluar. Kadang-kadang Saya bertanya kepada mereka, “Mengapa buru-buru?” Lalu mereka dengan gugup melihat jam tangannya dan berkata, “Sudah terlalu lama kami di sini, masih banyak pekerjaan yang harus kami lakukan!” Saya katakan, “Memang baik untuk menjadi rajin dan menangani segala urusanmu dengan baik, tetapi siapa yang akan menangani urusanmu bila tiba-tiba kalian meninggal di sini sekarang juga?”

Saya tidak mendorong orang untuk terus-menerus berada di masjid, tetapi hanya mengingatkan agar orang tidak hanya mengejar kebutuhan mereka, tetapi agar mereka bangkit, jungkir balik, setelah melakukan segala usaha yang ambisius karena tidak mungkin menjadi ‘penguasa dunia’ dan dengan mencurahkan begitu banyak energi untuk usaha mereka, itu malah akan merusak dan begitu banyak (hal-hal lain) yang ditinggalkan. Pertama-tama, dunia sudah mempunyai Penguasa; dan berdo’a kepada-Nya dengan penuh kerendahan hati dan dengan kehadiran hati dan pikiran (tidak terburu-buru) dalam shalat adalah lebih penting untuk mendapatkan kebutuhanmu daripada menyibukkan diri di kota . Yang kedua, mengerjakan urusan kalian dengan berlari (terburu-buru-red) adalah tidak efisien, kalian hanya akan menghasilkan penyakit jantung dan mati muda!

Jangan hidup di dunia dengan jadwal yang ketat, karena dia tidak akan dapat menyelamatkanmu dari masalah tetapi malah melibatkanmu ke dalam lebih jauh. Jadikanlah masalahmu lebih sederhana sehingga pemecahannya pun akan sederhana, juga jangan meninjau masalahmu dengan kaca pembesar, sehingga mereka berada di luar perspekstif, kebiasaan itu akan menghancurkan kalian secara fisik dan spiritual.

Wa min Allah at taufiq

Waspadalah terhadap Orang-Orang Munafik! Syekh Kita membawa Kita menuju Hadirat Suci dari Nabi saw

A`udzu billahi min as Syaythan ir Rajiim. Bismillah ir Rahman ir Rahim
Nawaytu al-arbaiin nawaytu. Athi` allaha wa `athi ar-rasula wa uli'l-amri minkum.

Cukup mengejutkan bahwa orang-orang masih tertarik dengan pertemuan semacam ini. Saya terkejut dengan adanya berbagai macam hiburan dan godaan di seluruh dunia, orang-orang meninggalkan rumah mereka dan datang ke sini, menghabiskan waktu mereka dalam pertemuan semacam ini. Itu adalah bukti bahwa kesalehan dan ketulusan masih ada dalam diri manusia, khususnya ketika orang tua membawa anak-anak mereka untuk hadir di sini, karena mereka membesarkan anak-anaknya dalam lingkungan yang sangat dicintai dan diterima oleh Sayyidina Muhammad (s).

Sifat manusia selalu ingin bepergian; ia tidak mau duduk dan terus mengikuti jejak Sayyidina Muhammad (s). Orang-orang yang tidak senang dengan pertemuan semacam ini dapat kalian temukan di sisi sebelah. Jadi guru saya, semoga Allah memanjangkan usianya, Sayyidi Syekh Muhammad Nazim Adil al-Haqqani, sangat gembira ketika beliau melihat majelis-majelis zikir di seluruh dunia yang berzikir mengingat Allah Subhanahu wa Ta`ala dan mengingat Sayyidina Muhammad (s). Khususnya bagi mereka yang, meskipun mereka Muslim, tetapi tidak dibesarkan untuk mendedikasikan dirinya untuk Islam dan khususnya juga bagi mereka yang bukan Muslim tetapi telah mendapat hidayah Islam. Mawlana Syekh juga gembira dengan orang-orang yang tidak dibesarkan dengan mempraktekkan Islam, tetapi hanya namanya saja yang Muslim, dan mereka juga datang dan beribadah sebaik-baiknya, sesuai dengan kesanggupan mereka.

Allah Subhanahu wa Ta`ala rida dengan mereka dan Nabi (s) rida dengan mereka dan pahala mereka tidak dapat dilukiskan!

Jadi tidak ada yang benar-benar mengetahui hati, kecuali Allah Subhanahu wa Ta`ala. Dan Dia memberikan ilmu itu kepada Nabi-Nya, Sayyidina Muhammad (s) dan Nabi (s) memberikannya kepada para awliyaullah, kemampuan untuk melihat apa yang ada di dalam hati manusia. Setiap orang tahu apa yang ada dalam hatinya, apa yang ia rencanakan, tetapi tidak ada yang mengetahuinya kecuali yang bersangkutan dan gurunya (syekh, mursyid); dengan izin Nabi (s) mereka mampu membaca isi hatinya. Kita harus tahu bahwa Allah Subhanahu wa Ta`ala melihat kita, dan Nabi (s) melihat kita melalui perintah dan wewenang dari Allah, dan awliyaullah melihat kita dengan perintah dari Nabi (s). Syekh dapat melihat dan mendengar muridnya, setiap gerakan sampai ke telinganya bagaikan suara guntur.

`Ilm al-quluub (ilmu tentang hati) adalah untuk awliyaullah. Itulah sebabnya orang-orang munafik berpikir bahwa apa yang ada dalam hati mereka tersembunyi (sebagaimana Allah berfirman tentang mereka dalam Alquran suci). Dan itulah sebabnya mereka mengatakan tentang hal-hal yang menyenangkan bagi kalian tetapi hati mereka sepenuhnya menentang kalian. Jika mereka melakukan hal itu terhadap Sayyidina Muhammad (s), dan Allah menurunkan begitu banyak ayat tentang mereka, bagaimana menurut kalian kondisinya sekarang, dengan lingkungan dan waktu seperti itu? Apakah mereka akan berdiam diri atau sibuk dengan berbagai proyek, program dan agenda-agenda?

Munafiquun berusaha menggunakan ajaran Allah, dan saya bicara tentang mereka yang merupakan Muslim, (dan) dalam agama-agama yang lain juga, mereka menggunakan ajaran Allah untuk mencapai tujuan mereka yang sangat berbeda (dengan tujuan kita). Jika kalian mengamati ajaran dari wali sejati dengan ajaran dari orang yang “dipanggil sebagai” wali, kalian akan menemukan suatu perbedaan yang besar di antara mereka. Yang satu ingin mengekspresikan pengetahuannya dengan menyajikan kata-kata agar secara akademis presentasinya bernilai tinggi, sementara yang lainnya menggunakan metode yang sangat sederhana atau kata-kata yang sangat sederhana, tetapi mengena di dalam hati, bagaikan panah! Itulah wali, dan kalian dapat memperhatikan bagaimana mereka bicara. Ketika orang yang dianggap wali atau ulama bicara, kalian dapat melihat kesombongan mereka dan kalian dapat merasakan bagaimana mereka memandang diri mereka sendiri.

Jadi nanti ketika kalian melihat Sufilive.com dan mendengar Mawlana Syekh Nazim, berusahalah untuk fokus pada cara beliau bicara, bagaimana beliau mengekspresikan dirinya. Kalian dapat melihatnya, beliau menunggu inspirasi yang masuk ke dalam hatinya untuk disampaikan. Itu bukan seperti ulama, yang memberikan pernyataan-pernyata an dari bukunya yang ia ingat. Saya akan mengatakan kepada kalian sejujurnya karena saya mengenal Mawlana Syekh Nazim, saya tidak pernah melihat beliau menghapal sesuatu. Hati beliau terhubung kepada Nabi (s) secara langsung dan beliau bicara secara spontan, dan kata-katanya bagaikan peluru kendali. Jika kalian tidak merasakannya, hati kalian akan merasakannya.

Orang-orang yang menyaksikan Sufilive.com mengalami peningkatan; kini kita menempati urutan ke-4 dari 1000 saluran/channel yang populer di Livestream.com (global)! Karena kata-kata awliya bagaikan roket cahaya, nur yang sampai ke dalam hati manusia (dan menarik mereka untuk menyaksikan siaran langsung tersebut).

Ratusan dari ribuan orang mendengarnya setiap 24 jam. Kami tidak tahu dari mana mereka berasal; kami mengetahui beberapa di antara mereka, tetapi yang lain kami tidak dapat mengetahuinya. Mengapa? Karena kata-kata awliya bagaikan roket cahaya, nur yang mencapai hati manusia (dan menariknya untuk menyaksikan siaran langsung tersebut). Sama halnya, dalam skala yang lebih kecil, di setiap negeri ada banyak lokasi yang berbeda untuk murid-murid Mawlana Syekh yang mendengar dan berkumpul dan kebersamaan mereka di bawah bendera seorang wali yang dianggap Sultan al-Awliya diberkati!

Kita menganggap syekh kita sebagai Sultan al-Awliya, dan saya tidak ingin mengkritik orang lain yang mungkin memanggil syekh mereka Sultan al-Awliya, tetapi kita harus sangat berhati-hati kepada siapa kita mendengar dan dari siapa kita mengambil (tarekat?) di semua lokasi yang berbeda di seluruh dunia, siapa benar-benar mendedikasikannya karena kecintaannya terhadap Mawlana dan siapa yang tidak. Saya dapat mengatakan bahwa sebagian besar dari mereka--tidak semua, sudah pasti mereka mendedikasikannya karena kecintaan terhadap Mawlana, kalau tidak mengapa mereka membuat lokasi baru, jika tidak mempunyai kecintaan terhadap syekh? Dalam tarekat kita dan banyak tarekat lain, hal itu sama.

Tetapi kalian harus sangat hati-hati terhadap beberapa orang yang menggunakan nama Syekh semata-mata untuk meraih keuntungan pribadi. Bagaikan sebuah apel busuk di dalam keranjang yang nantinya akan mencemari seluruh keranjang atau sekarung besar apel dalam beberapa hari. Saya bicara secara umum, dalam tarekat Naqsybandi atau dalam tarekat lain di mana terdapat masalah seperti itu, dan mereka juga ada di zaman Nabi (s). Beberapa orang munafik berbaur di antara para Sahabat. Mereka berusaha untuk mengacaukan para Sahabat (r) dan meracuni mereka dengan ide-ide yang busuk menggunakan nama Allah Subhanahu wa Ta`ala dan Nabi-Nya (s), padahal mereka menentang Allah Subhanahu wa Ta`ala dan Nabi-Nya (s). Dan Allah Subhanahu wa Ta`ala telah meminta kita untuk menghindari mereka dan untuk berhati-hati terhadap mereka.

Sebagaimana kita dapat melihatnya sekarang, orang-orang mungkin bertanya, "Mengapa kalian membuang waktu, membuang energi, membuang uang kalian, dengan pergi atau menempuh perjalanan jauh?" Atau pertanyaan ini juga datang ke dalam hati kalian juga, karena Setan adalah seorang munafik besar (dan dapat membisikan gagasannya). Tetapi dengan melakukannya, dengan melangkahi Setan kalian dan datang ke sini, kalian tidak datang kepada orang yang bicara, melainkan datang ke sumber asli (orisinal) sesuai dengan niat kalian.

Kalian datang karena kecintaan kalian kepada Mawlana Syekh dan kalian akan diberi ganjaran seolah-olah kalian telah menempuh perjalanan (mengunjungi Mawlana Syekh di Lefke)! Waktu yang kalian habiskan di sini seolah-olah kalian pergi ke rumah beliau (di Lefke) dan menghabiskan waktu di sana, karena rahasia beliaulah yang membuat kami bicara; juga cinta Grandsyekh `AbdAllah ad-Daghestani dan kecintaan kita kepada Grandsyekh dan kemurahan beliau, dari sini Grandsyekh bicara dalam berbagai kesempatan mengenai pentingnya halaqa, perkumpulan dan asosiasi di bawah seseorang yang telah mempunyai otoritas untuk bicara atas nama mereka.

Grandsyekh memberi Mawlana Syekh Nazim dua orang pembantu untuk menyebarkan pesan-pesan atas nama Mawlana Syekh Nazim. Dan sya`at as-suduf, secara kebetulan kita bertemu di sini. Jadi majelis ini mendapatkan berkahnya dari Mawlana Syekh Nazim dan dari Grandsyekh dan seterusnya hingga kepada Nabi (s)! Jadi ini bukanlah buang-buang waktu, tetapi dianggap sebagai ibadah yang lengkap (ketika kalian berada di sini atau mengunjungi Mawlana Syekh di Siprus), telah ditulis bagi setiap orang yang datang, setiap orang yang tinggal, setiap saat (datang ke sini) juga akan diberi pahala. Tidak hanya menghadiri suhbah saja, tetapi tinggal di sini atau di manapun, kalian akan diberi pahala di mana setiap detik seolah-olah kalian berada dalam ibadah sepenuhnya!

Jadi kita harus sangat berhati-hati terhadap beberapa apel yang busuk yang dapat mencemari apel-apel yang baik, dan saya bicara secara umum. Sebagaimana Nabi (s) bersabda, kalian harus sangat berhati-hati terhadap orang munafiq, aliimun bil-lisan jahuulan bil qalb, “Manis di lidah tetapi lalai dalam hatinya.” Ia bisa mengalihkan kalian ke tempat lain sehingga kalian akan kehilangan jalan dan kehilangan tujuan kalian. Jadi berusahalah untuk fokus pada ajaran Mawlana Syekh Nazim berikutnya dan perhatikan bagaimana beliau bicara: sangat sederhana, dengan bahasa Inggris yang lemah, tetapi membawa ilmu yang tak ternilai. Bila kalian melihat dengan cermat, kalian dapat melacak hubungan seperti melacak email (surat elektronik) dari alamat IP pengirimnya, untuk melihat darimana ia berasal. Jika kalian lebih fokus lagi, kalian akan melihat bahwa hubungan itu akan kembali kepada hati Nabi (s). Seperti sebuah magnet, Mawlana Syekh menarik dan
menyampaikannya secara langsung dari hati Nabi (s)!

Jika kalian melihat pada orang lain, kalian tidak dapat melacak sinyalnya karena alamat IP-nya adalah egonya sendiri; ia tidak dapat melangkah lebih jauh. Tetapi bila kalian melacak alamat IP milik Mawlana Syekh, di sana tidak ada ego, dan kalian dapat merasakan kehadiran Nabi (s) dalam ucapan beliau! Itulah sebabnya sangat penting untuk mendengar ceramah beliau. Ini juga (baru saja) diinspirasikan oleh Mawlana, agar saya mengatakannya. Menganjurkan kepada yang lain untuk ikut menyaksikan siaran langsung; mendengar dari sumber utamanya, yang merupakan stasiun atau maqam Nabi (s)!

Ketika Allah Subhanahu wa Ta`ala menurunkan Alquran suci kepada Nabi (s), apakah ada orang yang mendengarnya? Hanya Nabi (s) yang mendengar Suara Surgawi itu dan para Sahabat yang mendengar suara suci Nabi (s). Orang lain mendengar Alquran suci dari para Sahabat atau dari para imam yang muncul setelahnya hingga sekarang, kalian jauh dari stasiun atau sumber utamanya; sehingga sinyalnya menjadi berkurang dan berkurang dan berkuang (ia menjadi encer). Itulah sebabnya jika kalian tidak terhubung dengan sumber utamanya, cara membaca Qur`annya tidak sempurna. Awliyaullah mampu mendengar melalui silsilah mereka secara langsung dari apa yang Nabi (s)—sumber utamanya—katakan kepada mereka. Itu bukanlah hubungan yang langsung; kalian mendengarnya melalui suara syekh kalian, tetapi beliau mendengarnya secara langsung dari hati Nabi (s). Jadi tidak ada di antara kalian dengan Nabi (s) kecuali satu!

Karena ia datang begitu kuat, kalian mendengarnya secara langsung. Jika kalian mendengar ulama yang lain, ajaran mereka datang melalui buku-buku. Sebagaimana yang kami katakan kemarin, apa manfaat dari menghapal buku-buku dan tidak mempraktikkan ilmunya? Ketika kalian mendapat koneksi secara langsung, itu sangat berbeda dan itu sudah cukup bagi kalian di dunia dan akhirat!

Sebagaimana yang kita yakini, ia sampai ke lidah Syekh dari Nabi (s), jadi ia membawa cahaya yang sangat kuat, disertai rahmat dan berkah, Nabi (s) membelah diri, menyebar pada awliyaullah.

Bagaimana menurut kalian, jika kalian mendapatkannya dari kepala awliyaullah? Tak ada yang dapat merintangi kalian! Syekh kalian ada di sana untuk menghilangkan segala rintangan itu! Itulah sebabnya penting untuk mendengar ketika Mawlana Syekh bicara. Ketika beliau berdiri selama suhbah, pada saat itu beliau berada di Hadirat Ilahi, meminta Nabi (s) untuk menjadikan asosiasi itu sebagai asosiasi yang berbuah (bermanfaat) . Beberapa ulama malah tidak mempunyai wudu ketika mereka memaparkan presentasinya. Mawlana Syekh berdiri untuk memberi hormat ketika beliau menyebutkan Nabi (s), dan seringkali beliau berdiri setiap kali menyebutkan Nabi (s). Dalam suatu suhbah beliau berdiri 20 kali karena kehadiran Nabi (s) sangat kuat dalam asosiasi itu.

Di Sufilive, lihatlah orang-orang yang duduk di sana, bagaimana mereka dimuliakan dengan kehadiran dan manifestasi rahmat dan berkah yang muncul! Itu bukan hanya untuk orang-orang yang hadir bersama Mawlana Syekh di dalam suhbah yang akan diberi pahala, jadi beliau mendapat dari Nabi (s) ketika beliau memohon, “Ya Sayyidii, Ya Rasulullah! Jadikanlah orang-orang yang duduk bersamaku dan orang-orang yang menyaksikan siaran ini meraih level yang sama!" Jadi dalam setiap pertemuan, walaupun dengan menontonnya, akan mendapat berkah seolah-olah kalian mengunjungi beliau, dan setiap orang yang mengunjungi seorang wali, berarti wali itu berkewajiban dan bertanggung jawab untuk membawanya berziarah kepada Nabi (s), sebagaimana Nabi (s) mengatakan, "Siapa pun berziarah ke makamku, ia akan mendapat syafaatku.”

Awliayullah akan membawa para pengikutnya untuk berziarah kepada Nabi (s) dalam kehadirannya, Nabi (s) akan memberi mereka syafaatnya dan membawa mereka bersamanya ke Surga! Semua pahala ini ada di sana, tetapi kita harus sangat berhati-hati terhadap beberapa apel busuk yang dapat mencemari kita dan menimbulkan masalah. Kita adalah lemah. Kita tidak layak untuk mendapatkan apa-apa, kecuali pukulan! Kita adalah sampah.
Kita adalah keledai, bukan kalian, saya adalah keledai, yang lainnya kuda! Jadi, para keledai, bangunkan mereka, kita adalah keledai! Keledai adalah tanda bagi kelalaian.

waqsid min .. inna ankar al-aswaat la sawt alhamiir.

"Suara paling menjijikan yang telah diciptakan oleh Allah adalah ringkikan keledai".

Itu artinya keledai adalah karakateristik kita; itu artinya lalai. Kita lalai, jadi kita harus membuka mata kita. Bahkan Nabi (s) merasa khawatir terhadap apel-apel busuk ini, apa yang beliau katakan?

akhwafu ma akhaafu ala ummatii munafiq aliimul-lisan.

Yang paling kutakutkan dari umatku adalah kaum munafiq dengan lidah yang sangat fasih.

Kalian lihat, banyak yang mempelajari syariah dan mereka bukan Muslim; mereka mengajarkannya dan mereka adalah apel-apel yang buruk. Seorang profesor di universitas yang mengajarkan Islam tetapi tidak mempraktikkannya adalah seorang munafik, ia adalah apel yang buruk. Setiap kali kalian duduk bersamanya dan mendengar pembicaraannya, hati kalian dipenuhi kegelapan; seluruh asosiasnya penuh kegelapan. Orang itu tidak cocok untuk berada di tempat itu, (lebih pantas) di tempat di mana orang-orang meludahinya! Mereka yang merupakan profesor dan para pengajar Islam tetapi tidak mempraktikkan Islam adalah yang terburuk. Mereka mencemari seluruh sistem pendidikan. Sekarang kebanyakan dari mereka, yang mengajarkan Islam adalah orang-orang yang sangat sekuler.

Nabi (saw) bersabda, “Yang aku sangat khawatirkan pada umatku adalah orang yang munafik dengan lidah yang fasih (ketika ia bicara, orang-orang mendengarnya) , tetapi ia tidak mempunyai cahaya dalam hatinya, ia mempunyai kegelapan dan Setan bersamanya.”

Kalian dapat membandingkan, ketika Mawlana mengatakan sesuatu kalian dapat merasakan bahwa beliau terhubung dengan Nabi (s); yang lain terhubung dengan ego mereka. Nabi (s) merasa khawatir, perlukah kita merasa khawatir?? Kita harus membuka mata kita dan ada orang yang tidak tahu tentang syariah dan tarekat tetapi nasabuu li anfusikum “berikan mereka posisi untuk membimbing murid-muridnya. " Mau dibawa ke mana murid-muridnya? Ke suatu lembah yang sangat dalam di mana sewaktu-waktu mereka siap dimangsa serigala!

Pertemuan dan perkumpulan demi kecintaan terhadap Mawlana Syekh Nazim, sejak seseorang datang hingga ia pergi, dianggap sebagai ibadah sepenuhnya. Segala perbuatannya, termasuk makan, tidur, semuanya--karena ia datang demi Allah dan pergi untuk Allah! Jadi kita harus sangat berhati-hati terhadap orang-orang munafik yang pandai bicara itu.

Nabi (s) bersabda, (dalam banyak narasi yang berbeda dari Bukhari, sebagian besar termasuk hadis otentik):

inna ahadakum yujma` khulqihi fii batani ummihi ..arba`iina yawman,

“Pembentukan anak di dalam rahim ibunya dimulai sejak usia 40 hari,

Kemudian 40 hari berikutnya ia akan berada dalam siklus yang lain, tsumma yakuuna alaqatin mitslu dzalik, “kemudian ia akan menjadi gumpalan yang menggantung di rahim ibunya, dan setelah pembentukannya, ia akan menjadi besar, tsumma yuba`ts allahu malakan wa...arba` kalimaat, kemudian Allah mengirimkan kepadanya seorang malaikat dan malaikat itu akan memberikan empat kata kepadanya. Malaikat itu telah mengirimkan roh ke dalam tubuh anak itu. Malaikat itu akan diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa Ta`ala, aktub rizqahu wa `amalahu wa ... shaqqiyan aw sa`iid, “Tulislah apa yang akan ia lakukan di dunia, yang telah Kuketahui; tulislah, karana Aku ingin menjadikannya sebagai saksi di Hari Kiamat nanti.”

Mengapa Allah memerlukan saksi? Dapatkah kalian bicara di sana? Seluruh nabi dan umat mereka gemetar pada hari itu, khawatir dan takut dengan apa yang akan Allah tanyakan kepada mereka! Itulah sebabnya mereka akan datang kepada Sayyidina Muhammad (s), untuk meminta syafaatnya.

Jadi seluruh perbuatan kalian di dunia telah diketahui. Itu berada dalam cetak biru kalian; ketika Allah melalui Kehendak-Nya menciptakan kalian dari Asmaul Husna Al-Khaliq, "Sang Pencipta," dengan segera rencana itu muncul dari Asmaul Husna Al-Qadir, "Yang Mahakuasa," dan seperti gedung raksasa yang dibangun dari setiap peristiwa dalam hidup kalian, cetak biru kalian telah ditulis dan mereka sudah tahu apa yang akan kalian lakukan, bahkan berapa banyak rambut yang tumbuh pada janggut kalian! Kalian tidak tahu, saya tidak tahu. Jika kalian bahkan tidak mengatahui hal itu, apa yang kalian ketahui? Apa yang kalian ketahui tentang sisi dalam diri kalian, sementara dari sisi luar kalian tidak tahu apa-apa?

Jadi wahai Ghulam, wahai murid, wahai hamba Allah--mengapa kalian mengklaim suatu ilmu bila kalian saja tidak tahu jumlah rambut pada janggut kalian? Itulah contoh yang diberikan Allah untuk mengukur ilmu kalian tentang diri kalian sendiri. Tak seorang pun dapat menghitung jumlah rambut di kepala mereka, atau jumlah sel dalam tubuh mereka. Malaikat itu tahu, dan Suara Ilahi itu mengatakan, “Tulislah perbuatannya! " Dan segera setelah suara itu muncul, tulisan itu langsung jadi dalam sekejap, dan Nabi (s) berkata, uktub `amalhu dan dalam sekejap ia tertulis. Satu tombol ditekan, ia langsung tertulis! Dan itu sangat cepat, dan malaikat itu akan selalu bersamanya hingga akhir hayat orang itu.

Kemudian Suara itu berkata, wa rizqahu, “Tuliskan rezeki yang akan diperolehnya. " Dan apa pun yang kalian makan atau tetesan air atau berapa pun jumlah uang dan kekayaan yang akan kalian dapatkan, dalam sekejap ia tertulis. Tanpa berpikir, ia sudah di sana.

Allah Subhanahu wa Ta`ala mengatakan hal itu, Nabi (s) melukiskannya kepada kita. wa ajalahu, “Dan tuliskan hari kematiannya, waktunya, dihitung dalam ukuran napas. Berapa banyak napas yang kalian hirup dan kalian hembuskan, itu adalah ajal kalian di dunia, bukannya berapa lama (berapa hari) kalian hidup. Tidak. Saat di mana kalian tidak dapat bernapas lagi, itulah kematian. Lalu suara itu akan berkata, syaqii-in aw sa`iid, “Tulislah apakah ia akan tergolong orang-orang yang bahagia atau orang-orang yang akan dihukum.” syaqi artinya orang-orang yang seperti qat`at at-turuq, seperti geng (preman). Untuk bersama geng atau bersama orang-orang yang paling bahagia, dari api neraka atau dari Surga.

Mengapa di dalam hadis kadang-kadang kata syaqii “geng” muncul sebelum kata “orang-orang yang saleh”? Bahkan di dalam Alquran, falamaha fujuuraha wa taqwaha. Karena Allah ingin khatimat al-umouur menjadikan akhir bagi setiap orang menjadi akhir yang baik! Itulah sebabnya syaqii ditulis pertama dan saiid mengikutinya, karena yang buruk akan jatuh dan yang baik akan diangkat.

Semuanya tertulis: amalnya, rezekinya, ajalnya, dan ketika meninggal ia akan bersama orang baik atau tidak. Itu semua selesai dalam sekejap, “Kun!” (Allah berkata, “jadilah!” dan jadilah ia!) Sebelum nun memasuki kaf, ia terjadi. Yanfukhu fiihi ar-ruh, “Kemudian malaikat meniupkan roh ke dalam tubuhnya, lalu anak itu mulai bergerak di dalam rahim ibunya. Semua hal ini telah dimuat (diupload) ke dalam tubuh anak itu; sebelum lahir, mereka memuatnya dalam DNA anak. Para ilmuwan mengatakan bahwa DNA memuat apa yang ada dalam tubuh kalian, tetapi pada kenyataannya, segala sesuatu yang akan kalian lakukan di dunia sudah tertulis dalam DNA kalian setelah rencana-rencana itu dimasukkan ke dalam chip dalam pikiran kalian.

Beberapa anak meninggal dalam rahim ibu karena malaikat mereka tidak menyelesaikan keempat hal ini, atau satu di antara keempat hal itu tidak lengkap. Beberapa anak meninggal dalam rahim; yang lainnya lahir dengan cacat. Hanya anak yang keempat hal tadi sudah tertulislah yang mempunyai bentuk sempurna dan segera setelah itu roh masuk ke dalamnya.

قال الرسول صلى الله عليه وسلم ( إن الرجل ليعلم بعمل أهل الجنة حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل النار فيدخلها ، وإن الرجل ليعمل بعمل أهل النار حتى ما يكون بينه وبينها إلا ذراع فيسبق عليه الكتاب فيعمل بعمل أهل الجنة فيدخلها(

inna ar-rajulun la ya`mal bi-`amalin ahla’l-jannat hatta maa yakuunu bayynahu wa bayniha illa dzira`a fayasbiq `alayhi’l-kitaab fay`amal bi-`amal ahlin-naari fayadkhuluha. Wa inna ar-rajul la ya`mal bi-`amalin min ahli’n-naari hatta maa yakuunu bayynahu wa bayniha illa dzira`a fayasbiq `alayhi’l-kitaab fay`amal bi-`amal ahlil-jannah fayadkhuluha.

Kaian bisa saja sangat berdedikasi dalam seluruh hidup kalian tetapi pada suatu saat kalian memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat buruk, yang akan membawa kalian pada sisi yang lain dan pada akhirnya kalian akan masuk ke Neraka. Suatu ketika ada seorang yang saleh, hamba yang tulus dan mereka bertanya padanya, hal ra'aita rabbuk. law ma ra'aayta la qata`t min makanii, “Apakah kau melihat Tuhanmu?” Ia berkata, “Jika aku tidak melihat-Nya, Aku pasti telah terpotong-potong hingga potongan-potongan kecil." Itu artinya tidak melihat dengan visi, melainkan melihat dengan tauhid, percaya kepada Keesaan Tuhan. Pada level ini, hati selalu dalam keadaan mengingat Sang Pencipta.

Kita akan berhenti di sini, tetapi Saya menganjurkan kepada setiap orang untuk menyaksikan Mawlana Syekh di sufilive.com. Jika mereka terlewat menyaksikan siaran langsungnya, mereka dapat melihat rekamannya, tetapi menyaksikan siaran langsung lebih baik karena yang lain bagaikan fotokopi, walaupun kalian tetap akan mendapatkan berkahnya. Ketika siaran langsung dimulai, kerannya terbuka, pipa dari Nabi (s) kepada Mawlana Syekh terbuka dan beliau akan membawa kalian ke hadirat yang suci itu. Tetapi bila kalian menyaksikan rekamannya, pipa itu tidak terbuka; dengan demikian kalian akan berada dalam hadirat Syekh tetapi tidak dalam hadirat Nabi (s).

Kadang-kadang mereka bertanya mengapa Mawlana Syekh menunda siarannya. Mengapa? Apakah Nabi (s) tidak tepat waktu? Orang-orang yang sudah berada dalam pipa itu berada dalam lingkungan surgawi, dalam kehadiran Nabi (s), dan kalian akan dibusanai dengannya. Itulah sebabnya orang-orang yang duduk di sana dalam asosiasi bersama Mawlana akan mendapatkan tajali itu. Jadi Mawlana memohon kepada Nabi (s), “Biarkan orang-orang yang melihatku menerima tajali yang sama.”

Waktu sangat penting, sebagaimana keran Mawlana selalu terbuka, tetapi tidak ada izin untuk membukakannya kepada yang lain hingga tiba waktu yang tepat, dengan demikian Mawlana menunda siaran langsungnya. Ketika beliau memulainya, keran energi Ilahiah dari Sayyidina Muhammad (s) kepada Mawlana Syekh terbuka bagi yang lainnya. Semoga Allah Subhanahu wa Ta`ala memanjangkan umurnya dan memanjangkan umur kita untuk berjumpa dengan Sayyidina Mahdi (a) dan Sayyidina `Isa (a)!

bi hurmatil habiib, bi hurmatil fatiha.

Dan dengan yang sedikit ini kita tenggelam! Bahr dari Samudra Mawlana Syekh.

Wa min Allah at Tawfeeq

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani qs
Minggu, Sep 06, 2009 | Fenton, MI US

Diambil dari sufilive.com
Diterjemahkan oleh Arief Hamdani

Hari `Asyura yang penuh Berkah

A’uudzubillaahi minasy syaythaanir rajiim
Bismillaahir rahmaanir rahiim
Wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa asyrafil Mursaliin Sayyidinaa wa Nabiyyina Muhammadin wa ‘alaa aalihi wa Shahbihi ajma’iin

Alhamdulillah Allah SWT telah mengaruniai kita untuk menjumpai satu tahun lagi dari kalender Hijriah. Dari masa Nabi SAW hijrah ke Madinah, kini sudah 1423 tahun.

Alhamdulillah Dia mengutusnya sebagai rahmatan lil-`alamiin – Rahmat bagi seluruh alam. Ketika kita mengatakan rahmah, itu berarti rahmat. Jika kesehatan kalian baik, itu adalah suatu rahmat, jika usaha kalian baik, itu adalah rahmat; jika kehidupan kalian baik, itu adalah rahmat; jika anak-anak kalian tumbuh dengan baik, itu adalah rahmat. Jika tetangga kalian baik dan bersahabat dengan kalian, itu adalah rahmat dari Allah SWT. Jika Allah SWT mengirimkan hujan kepada kalian, itu adalah rahmat. Apapun yang baik, adalah rahmat.

Dan Allah SWT menggambarkan Nabi SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam, rahmatan lil-`alamiin. Itu berarti, “Ya Muhammad SAW! Aku menciptakanmu sebagai rahmat bagi seluruh hamba-Ku. Kehadiranmu dalam kehidupan mereka adalah suatu rahmat bagi mereka. Engkau adalah hamba-Ku dan mereka juga hamba-Ku. Tetapi engkau adalah hamba-Ku yang sempurna. Innaka la`ala khuluqin `azhiim - ‘Sesungguhnya engkau berbudi pekerti yang luhur.’ [68:4] Jadi Aku menciptakan mereka, dan jika mereka mengikutimu, engkau akan menjadi rahmat bagi mereka.”

Jika kita mengikuti jalan Sayyidina Muhammad SAW, kita tidak akan menemui kesulitan, kita tidak akan menemui masalah. Jika kita mengikuti hasrat kita yang buruk, kita akan menemukan masalah-masalah dalam hidup kita. Berusahalah untuk menyelamatkan diri kalian dengan mengikuti apa yang dibawa oleh Nabi SAW.

Wahai umat Muslim! Inilah yang mengubah kehidupan di alam semesta—hijrah dari Mekah ke Madinah. Itu terjadi 8 hari yang lalu, beberapa (orang) mengatakan 10 hari yang lalu dan sebagian lagi mengatakan sebelas, bahwa Nabi SAW tiba di al-Madinah.

Ini adalah bulan di mana Allah SWT memerintahkan Nabi SAW untuk pindah ke Madinah untuk mendirikan infrastruktur Islam, mendirikan negara, dan khilafah Islam. Di bulan inilah Allah SWT memberi tempat kepada Nabi SAW yang dari tempat itu Islam tersebar ke segala penjuru.

Topik hari ini adalah pentingnya Hari `Asyura, hari kesepuluh bulan Muharam, yang telah disebutkan oleh Nabi SAW. Ketika beliau mencapai Madinah al-Munawwarah—pada saat itu disebut Yatsrib atau Taiyyaba—dan masuk, dan membangun tempatnya, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada sepuluh Muharam. Dan beliau bertanya, “Mengapa mereka berpuasa pada hari itu?” Mereka berkata, “Karena pada hari itu Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dari Firaun.” Kemudian Nabi SAW pun berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umat Muslim untuk berpuasa pada hari itu.

Dan Muslim meriwayatkan dalam suatu hadis mengenai `Asyura, “`an abi qatadata an rasulullahi saama yawma `Asyura… kaffaaratan lis saanat almaadiya.” Abu Qatada RA melaporkan bahwa Nabi SAW berkata bahwa barangsiapa yang berpuasa pada hari itu, ia akan diampuni seluruh dosanya pada tahun sebelumnya.

Imam Abu Hanifa berkata, “Kaana waajiban fii awwali dzuhur al-Islam” – “Pada masa awal Islam, hari itu diwajibkan untuk berpuasa.” Imam Syafi`i berkata, “Adalah Sunnah untuk berpuasa tetapi tidak diwajibkan.” Imam Abu Hanifa berkata bahwa adalah kewajiban untuk berpuasa pada hari itu di dekade pertama Islam.

Tetapi yang penting diingat adalah bahwa Allah SWT akan menghapus dosa kita selama satu tahun. Ini adalah suatu rahmat yang Allah SWT kirimkan kepada kita, itulah maksud dari wa ma arsalnaaka illa rahmatan lil-`alamiin – Kami tidak mengutusmu, kecuali sebagai Rahmat bagi seluruh alam (makhluk) [21:107]. Dengan mengikuti apa yang dilakukan oleh Nabi SAW, mereka diampuni dosa-dosanya.

Lihatlah, jika kalian berada di dalam penjara, jika kalian menjaga perilaku baik kalian, pihak berwenang mungkin akan membebaskan kalian lebih awal. Pada Hari Pembalasan kita akan mencari segala sesuatu yang dapat membebaskan kita, yang dapat menghapus dosa-dosa kita. Apakah kalian mempunyai puasa `Asyura pada hari itu?

Jadi segala sesuatu yang Nabi SAW bawa adalah rahmat bagi umat Muslim. Itu adalah satu hari, hanya satu hari, Minggu atau Senin. Jika niat kalian adalah berpuasa pada hari Senin dengan keyakinan bahwa itu adalah Hari `Asyura, maka berpuasalah pada hari itu dan kalian akan diberi ganjaran sesuai dengan niat kalian.

Ibn `Abbas RA mufassir Alquran terbesar, berkata bahwa Nabi SAW berpuasa pada Hari `Asyura [karena pentingnya hari itu] dan beliau memerintahkan orang-orang untuk berpuasa pada hari itu [Bukhari and Muslim]. Beliau memerintahkan para Sahabat berpuasa pada hari itu. Itulah kepentingannya—menghapuskan dosa satu tahun.

Abi Sa`iid al-Khudri RA meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa di Hari `Arafah, Allah SWT akan menghapuskan dosa-dosanya selama satu tahun sebelumnya dan satu tahun berikutnya.”

Itu lebih daripada `Asyura. Itu berarti bahwa Dia akan menghapuskan dosa-dosa di masa depan, artinya ia akan dilindungi dari dosa. Dan barangsiapa yang berpuasa `Asyura, Allah SWT akan mengampuni dosa-dosa di tahun sebelumnya.

Pada hari itu, Allah SWT memberi kemuliaan kepada banyak nabi, semoga kedamaian tercurah pada mereka. Allah SWT telah memilih Adam AS untuk menjadi ayah bagi umat manusia pada hari itu. Dia mengangkat Idris AS ke Surga pada hari itu. Dia menyelamatkan Sayyidina Nuh AS bersama orang-orang di dalam bahteranya pada hari itu. Dia menyelamatkan Sayyidina Ibrahim AS pada hari itu. Dia mengampuni Sayyidina Daud AS pada hari itu. Dia mengembalikan kerajaan Sulayman AS kepadanya pada hari itu. Dia melepaskan Ayyub AS [dari penderitaannya] pada hari itu. Dia mengangkat Sayyidina Isa AS [ke Surga] pada hari itu. Dan pada hari itu rasul kalian, rasul penutup yang diutus Allah SWT, pada hari itu, Allah SWT membuat Sayyidina Muhammad SAW menikah dengan Sayyidatina Khadijah RA dan Dia membuatnya hijrah ke Madinah pada hari itu. Dan Dia menciptakan langit dan bumi pada hari itu dan Dia menciptakan Qalam pada hari itu. Dan hari itu adalah Jumat—bukan Sabtu atau Minggu. Itu adalah hari yang sangat penting dalam kalender Islam.

Sekarang kalian pergi ke beberapa tempat dan mereka mengatakan kepada kalian mengenai pentingnya hari ini. Tetapi kalian pergi ke tempat lain, lalu terlibat terlalu banyak dalam politik, dan mereka lupa tentang hari ini.

Dan pada akhirnya, saya ingin memberikan makna dari `Asyura. Disebutkan dalam banyak tradisi Islam bahwa `Asyura berarti orang yang menghormati dan memuliakan hari di mana Allah SWT telah menyelamatkan seluruh nabi dari kejahatan umat mereka, Allah SWT akan mengangkatnya menuju kehidupan yang cerah. Itu artinya `asya nura—hidup pada ‘hari yang cerah.’ Mereka menghilangkan nun untuk menyatukan dua kata tersebut.

Al-Hamadani QS—salah satu muhaddis terbesar—meriwayatkan bahwa ketika Allah SWT memerintahkan Nuh AS untuk membangun bahteranya, ia membangunnya dari 124.000 papan. Dan kita tahu dalam tradisi Islam dalam tafsir Ibn `Abbas RA mengenai Surat al-`Araf, bahwa Allah SWT mengutus 124.000 nabi, dan di antara mereka terdapat 313 rasul. Ketika Sayyidina Nuh AS mulai menyusun papan-papan itu di tempatnya, nama dari para nabi muncul di papan-papan tersebut. Ketika ia sampai pada satu papan sebelum papan terakhir, papan ke 123.999 nama Sayyidina Muhammad SAW muncul pada papan ke-124.000. Tahulah Nuh AS bahwa beliau adalah nabi terakhir. Ia kemudian membutuhkan empat papan lagi untuk menyelesaikan bahteranya. Segera setelah ia menyusun papan-papan ini, keempat nama khalifah muncul pada papan-papan tersebut. Allah SWT berkata padanya, “Demi Muhammad SAW, Aku menyelamatkan bahtera ini.”

Demikianlah Sayyidina al-Hamadani QS berkata, “Karena kecintaan Allah SWT pada mereka, Dia meletakkan nama-nama mereka pada bahtera itu.” Barangsiapa yang mencintai Nabi SAW dan para sahabat beliau, maka Allah SWT akan mencintai mencintai mereka.

Semoga Allah SWT memberi kita berkah untuk berpuasa di Hari `Asyura.

Saya ingin mengajak kalian memperhatikan ayat berikut ini, Ati`ullah wa ati`ur-rasul, wa ulil amri minkum.- Patuhi Allah SWT, patuhi Rasul SAW dan orang-orang yang mempunyai otoritas atas kalian. [4:159]

Ini adalah waktu yang sangat sulit. Umat Muslim harus waspada bahwa mereka harus menjaga kecintaan mereka terhadap Islam di rumah-rumah mereka, di lingkungan mereka dan dengan tetangga-tetangga mereka. Kalau tidak, maka kita akan berada dalam bahaya. Allah SWT melindungi Islam, dan tak seorang pun dapat menambah atau mengurangi sesuatu darinya. Umat Muslim mungkin berada dalam bahaya, dan oleh sebab itu mereka harus mengambil langkah-langkah pencegahan. Kita datang ke sini bukannya untuk mendirikan negara Islam. Bukan seperti itu. Kita datang untuk hidup dengan damai, bekerja, membesarkan anak-anak kita secara Islami dan untuk mengembangkan suatu generasi baru. Jika kita menginginkan lebih dari itu, kita akan berada dalam masalah.

Nabi SAW bersabda, “Di Hari Akhir, kegelapan yang pekat akan menyelimuti umatku. Pada saat itu, orang yang duduk lebih baik daripada orang yang berjalan, dan orang yang berjalan lebih baik daripada orang yang berkendaraan…”

Jika kalian mempunyai masalah, diamlah di dalam rumah. Jika kita melibatkan diri kita, kita akan menyakiti diri kita sendiri. Duduklah sendiri, baca Alquran dan hadis, dan pergilah ke tempat kerja kalian. Jangan libatkan diri kalian pada sesuatu sekarang ini—itu tidak dianjurkan. Semoga Allah SWT melindungi semua orang yang melindungi orang lain dari penderitaan dan bencana.

Merokok adalah Salah Satu Dosa yang Berbahaya

Bismilahhirohmanirrohim

A`udzu billahi min asy-syaitaan ir-rajiim. Bismillahir - Rahmanir- Rahiim. Nawaytu’l-arba’ iin, nawaytu’l-`itikaaf, nawaytu’l-khalwah, nawaytu’l-riyaada, nawaytu’s-suluuk, nawaytu’l-`uzlah lillahi ta`ala fii hadza’l-masjid. Ati` Allah wa ati` ar-Rasula wa uli ‘l-amri minkum

Pada sesi sebelumnya, Grandsyaikh Abdullah Faiz qs bertanya apa yang Allah swt akan adili pada hari penghitungan? Pertama, Allah swt akan mengadili ego, ananiyah, egoisme. Mereka yang tidak melihatnya, tidak akan melihatnya kecuali diri mereka. Mereka tidak menghargai bahwa Allah swt telah menurunkan mereka ke dunia untuk menyingkirkan ananiyah, egoisme mereka. Karena di surga, Sayyidina Adam A.S., saat itu Allah swt membuatnya dominan agar ia mampu menguasai kekuatan spiritualnya.

Tetapi saat itu ia tidak mendengarkan spiritualitas yang menurutnya telah berhasil dicapainya, dimana ia dapat menikmati surga dengan hal itu. Saat itu ia mendengarkan bisikan iblis, hingga apa yang terjadi? Ia diturunkan oleh Allah swt ke dunia. Ia berbuat dosa, maka Allah menurunkannya ke dunia untuk membersihkankannya. Kita di dunia berada dalam pengampunannya karena pada hari pengadilan nanti Allah swt tidak ingin kita datang dalam keadaan kotor, Allah ingin membersihkan diri kita untuk masuk surga.

Kita hidup di dunia dalam pengampunannya untuk dibersihkan, agar pada hari pengadilan kita datang dengan bersih. Allah mengirim kita ke dunia agar keinginan buruk ini bisa hilang. Keinginan buruk ini dimulai dengan tidak hanya mencintai diri sendiri saja, tapi mencintai orang lain juga, malah lebih dari kita mencintai diri sendiri, hal ini berarti kita menghilangkan egoisme kita. Hal itu merupakan pembersihan dan artinya kita mengangkat diri sendiri.

Karena kamu telah melakukan sholat, puasa, zakat, haji , bersyahadat, apa yang kurang? Egoisme yang harus ditarik, dibersihkan dan dibuang. Kalau itu sudah dibuang maka kamu akan datang di hari pengadilan dengan bersih. Di hari pengadilan, orang yang beriman tapi mempunyai ego, Allah akan mengadili agar mereka menjadi bersih. Setelah bersih mereka akan ke surga. Maka dari itu, kita tidak ingin berada dalam keadaan seperti itu, merasa malu dihadapan pencipta kita di hari pengadilan nanti.

Maka tariqah adalah untuk membersihkan ego kamu, untuk memberikan bimbingan seperlunya. Karena dalam kehidupan, kamu bisa terbersihkan melalui gurumu, guru itu sendiri terbersihkan lewat gurunya lagi, begitu seterusnya sampai ke Nabi Muhammad saw, sebagaimana beliau membersihkan sahabah, kemudian diturunkan ke tabiin, tabiit sampai kepada guru2 tariqah, maka dari rahasia pembersihan itu, para guru mewarisi bagaimana membersihkan murid mereka.

Jadi apapun yang diberikan oleh guru anda, terimalah karena ia dapat melihat lebih dalam lagi dan lebih jauh lagi dari apa yang kamu lihat. Dan Grandsyaikh Abdullah Faiz qs, semoga Allah memberkatinya, berkata bahwa melalui egonya, iblis kehilangan amalnya, perbuatan baiknya, yang dilakukan di surga, karena itu Allah swt membuangnya. Ia berkata:

Meninggalkan satu hal yang dilarang Allah memiliki nilai yang besar bagi Allah. Jika kamu menghamba tapi kamu berbuat dosa, segeralah bertobat, karena dengan bertobat kepada Allah swt maka kamu membuatNya puas dengan dirimu lebih dari penghambaan dan dedikasi anda. Karena penghambaan dan pengabdian kadang lebih mudah tapi menyembuhkan dosa sulit. Sulit untuk berhenti. Maka dari itu Allah akan membalas orang yang bertobat. Lebih lagi, orang yang ingat untuk senantiasa bertobat dan bertobat, Allah akan membalasnya dengan apa yang ia patut peroleh sehingga orang itu masuk surga.

Kalau syaikh berkata tentang hal itu, semoga Allah melindungi kita dari masalah yang berat dan sangat penting dalam kehidupan kita yang kita jatuh kedalam jeratan setan. Khususnya hari ini, Ia berkata semoga Allah melindungi kita dari masalah “Merokok”. Ia berkata “Merokok adalah salah satu dosa yang paling berbahaya, sangat berbahaya dalam menghancurkan diri, jiwa dan raga, juga membuat kita lebih egois lewat merokok.

Saat merokok, anda melahirkan akar egoisme, karena semua kemauan buruk merupakan produk dari merokok. Apakah kamu terpengaruh lewat susu ibu atau susu botol, atau lewat orang tua kamu yang merokok, atau lewat makanan yang anda makan karena diolah oleh orang yang tidak sholat, tidak puasa dan oleh orang yang tidak tahu apa yang mereka lakukan.

Mungkin mereka merokok sambil bekerja dibelakang mesin pengolah susu atau makanan bayi formula. Sekarang ini merupakan hal biasa bagi orang tua untuk memberikan bayi mereka dengan susu dan asupan berformula. Siapa yang berada dibelakang pengolahannya? Di belakang mesin pembuat susu tersebut? Apakah ia bersih? Apakah ia sholat atau tidak?

Sumber dari semua masalah adalah merokok, yang tanamannya ditumbuhkan oleh setan, oleh iblis. Ia menemukannya, ia menanamnya. Setan mengetahu disaat Nabi Muhammad saw ada, maka Setan tahu ia tidak dapat mendekati para sahabat, ia pergi dan menghilang. Grandsyaikh berkata,”Awliya allah mampu melihat iblis dan tahu rahasia mereka, apa yang ditanam iblis, tanaman ini ada dimana-mana. Ketika Nabi Muhammad sallallahu alayhi wasalam tiada, dan generasi sahabah pergi, iblis menampakkan diri berupa orang laki yang merokok untuk menarik orang.

Saat ini banyak ragam rokok untuk menarik orang. Yang sangat mahal dan terbaik ialah cigar Cuba, Havana. Ada lagi semua produk yang berasal dari tanaman beracun itu, selain itu cara pembuatannyapun berbeda-beda agar kaum muda tertarik dan kemudian menghancurkan hidup mereka. Merokok adalah akar dari semua permasalahan.

Beliau berkata saat ini, semoga Allah melindungi kita, beliau melindungi para murid kita dari hal merokok. Hampir semua murid Mawlana Syaikh Nazim qs tidak merokok karena beliau sudah menjelaskan bahayanya tanaman ini…

Hal ini harus dicegah, para muridnya tidak ada yang merokok, hanya beberapa yang saya lihat, maka dari itu saya bilang ‘hampir’. Beberapa mengatakan: ‘tidak, kami tidak merokok”, karena itu penyebab kanker.

Sekarang ini di negara maju di tempat umum banyak larangan merokok. Kalau anda pergi ke Negara Dunia Ketiga, kalian akan temukan banyak perokok , di Negara Barat mereka berhenti merokok karena tahu bahanyanya. Di Negara muslim, mereka merokok dan lebih banyak yang merokok. Satu batang rokok ke batang lainnya. Di Libanon, Bangladesh, Turkey, semua Negara muslim……… subhanaallah, mereka kecanduan rokok. Siapa yang mendapatkan keuntungan? Perusahaan rokok. Mereka mengambil uang anda.

Mereka bertanya Anda merokok? Tidak! Karena merokok adalah buruk. Tapi apa yang ditangan anda? Bukan, ini bukan rokok tapi marijuana. Oh, marijuana! Tidak apa-apa kata kalian! Tapi merokok adalah buruk. Begitulah tipu muslihat setan, ia tahu orang akan meninggalkan merokok dan ia membawakan yang lain. Orang miskin yang saya tahu di Libanon, mereka tidak punya uang untuk beli rokok, jadi apa yang mereka lakukan?… Mereka pergi ke sekolah, menyerut pensil sampai keluar hasil serutan kayunya, kemudian mereka bungkus jadi rokok. Mereka tidak punya uang…

Disekolah lanjutan di Libanon mereka memberikan pensil gratis. Subhanallah, lihat berapa besar ego mereka, memperlihatkan diri merokok di jalanan. Berapa besar uang untuk membeli rokok, betapa sulitnya mengendalikan keinginan merokok dan mempertontonkan pada manusia, juga mengendalikan ego manusia.

Siapapun yang terlindungi dari merokok, secara umum, adalah bukti kegembiraan Allah terhadap mereka. Allah swt bersifat “Jalil”, dan Allah swt senang dengan mereka yang tidak merokok. Yang melaksanakan kewajiban agama tetapi tidak merokok, Allah senang dengan mereka. Yang melakukan kewajiban agama tetapi tetap merokok, maka ia berada dibawah kendali setan dan siapa yang dibawah kendali setan, maka iblis ingin menghancurkan.

Beliau juga berkata, bahwa banyak syaikh, banyak suyuk, yang berpendidikan, berintelektualitas dan tahu hadist Nabi saw, semua yang berbahaya harus dimusnahkan, kalau melihat kalajengking, bunuh! Akan menggigitmu. Kalau melihat ular, bunuh! kullu mudarin, lihat semua yang berbahaya, bunuh, kalau lihat tikus, bunuh karena membawa virus rabies. Jangan bilang tidak , hanya seekor tikus yang manis.

Jadi apapun yang mudarat, harus musnahkan karena berbahaya. Di rumah sakit ada larangan merokok, di pesawat ada larangan merokok, karena ada yang merokok dan yang tidak. Mereka mengerti kata, No!… Di Negara Arab, ada toilet yang terpisah untuk perokok dan bukan perokok…

Di hari pengadilan, para perokok harus pergi ke sisi kiri dan yang bukan perokok ke sisi kanan. Sisi kiri adalah komunis dan para Perokok. Dan disaat itu yang merokok dan bukan perokok, dihari Mahsyar itu mereka tidak bisa berbohong. Bukan perokok di sisi kanan. Orang-orang yang berada di sisi kanan, orang-orang dengan tingkatan tertinggi. Beragam kehormatan mereka peroleh lewat larangan yang dijauhi, kewajiban yang dilaksanakan, shalat-shalat apapun yang dikerjakan dan mereka bukan perokok.

Orang yang melaksanakan kewajiban agama tapi merokok, mereka adalah budak, bahkan setelah berganti bajupun mereka tetap bau asap rokok. Bagaimana mereka bisa mengganti organ paru-paru mereka, tidak bisa. Allah membawa anda mati dalam keadaan badan anda berbau rokok. Paru-paru anda berbau dan malaikat tidak akan ada yang mendekat.

Sekarang siapa yang mendekat, malaikat menengok kearah neraka karena setan diciptakan dari hal-hal seperti rokok itu. Allah, berkata setan bisa mengambil bau itu, sekarang anda sedang dalam proses pembersihan dan Allah tahu pembersihan apa yang anda butuhkan…kalau anda ingin bersih, tinggalkan merokok, karena, seperti yang dikatakan Grandsyaikh bahwa merokok adalah akar dari semua masalah.

Maka dari itu, anak-anak awalnya bisa memiliki pandangan tembus dan melihat malaikat tapi lambat laun mereka terselimuti oleh semua lingkungan sekitarnya, oleh susu atau asupan berformula, oleh bakteri. Apa yang telah mereka campur kedalamnya? Siapa yang membuat dan memberikan makan mereka.

Dan beliau mengatakan bahwa saat ini ada Syuyuk besar yang merokok dan mereka sangat bahagia dengan rokoknya, Saya bertanya kenapa mereka tidak membawa satu toples madu, paling tidak rasanya lebih enak daripada rokok, tetap saja mereka lebih memilih rokok hasil tanaman setan…Apa yang anda pilih? Kalau anda meletakkan madu dan rokok, mana yang akan anda pilih? Rokok atau madu? Madu memberikan rasa manis tapi orang mengejar hal kotor dan meninggalkan yang asli, manis dan baik. Inilah perbedaan antara dua syaikh yang berbeda, syaikh yang bersifat wali pilih madu, syaikh yang merokok pilih tanaman setan itu.

Meski ia berpengetahuan tetapi tetap tak ada cahaya pada ajaran mereka. Awliya Allah memiliki cahaya karena mereka tidak merokok, syaikhh siapapun yang merokok, maka mereka bukan wali, meski ia memiliki keajaiban ia bukanlah seorang wali, karena setan bermain kotor dengannya.

Suyuk/Guru yang merokok ini, meski mereka berpengetahuan, mereka tidak membelanjakan uangnya pada anak dan keluarganya, bahkan ketika anak-anaknya lapar, mereka tidak bisa berhenti merokok, seperti seorang pecandu alkohol, mereka tidak bisa berhenti, mereka kecanduan rokok. Ia mengorbankan anak dan keluarganya tapi ia tidak bisa mengorbankan rokoknya. Di pesawat ada larangan merokok di kamar kecil, ada detektor yang mengawasi. Bagaimana dengan malaikat, bukankah mereka memiliki detektor yang lebih canggih. Mendeteksi orang yang bersembunyi dari anak dan keluarganya untuk merokok.

Kita tidak akan mengatakan darimana asal tanaman setan itu. Percaya itu! Dan kita percaya bahwa tanaman itu sangat kotor tapi dibungkus dengan manis, bahkan dengan madu agar berasa enak, begitulah cigar Havana yang terkenal itu. Sekarang, sewaktu orang merokok, orang bertanya rokoknya rasa apa? Kita ingin tahu. Ada yang mau? Semoga, Allah melindungi anda semua. Mereka mengatakan, yang ini diramu dengan madu, yang ini tidak.

Mereka membuatnya organik dan alami. Kalau diramu anda meracuni rokok, maka mereka ingin alami saat diisap dengan bau enak. Dicampur dengan tangan, dan karena ada cara meramu dan menghasilkan rokok dengan dilempar keatas, mereka sebut tataim.Dan Syaikh Abdullah Faiz qs berkata, ini merupakan pengaruh/bala terbesar yang menimpa ummah, kalau tidak karena ampunan Allah, semua akan berada dibawah kekuasaan setan, aturan setan dan kekuatan iblis. Insya Allah, kita akan teruskan setelah dzuhur. biHurmati habib bi hurmati fatihah.

Wa min Allah at Tawfiq

Kesabaran Berujung Kenikmatan

Oleh: Febri

Seorang dokter spesialis luka dalam Riyadh yang bernama Dr. Khalid Al Jubir berkisah tentang dirinya dan sahabatnya. Beginilah kisahnya, selama kuliah dulu dia memiliki seorang teman mahasiswa akademi militer. Dalam semua hal dia memiliki banyak kelebihan disbanding teman-temannya yang lain. Selain baik hati, pemuda ini juga amat rajin shalat malam dan tidak pernah lalai menjalankan shalat lima waktu.

Pemuda ini lulus dengan nilai memuaskan. Tentu saja ia sangat ingin senang. Namun tak ada yang bisa menduga jalannya takdir. Suatu saat pemuda ini terserang penyakit influensa, dan sejak saat itu fisiknya mnejadi lemah hingga mudah terserang berbagai macam penyakit. Hingga karena komplikasi penyakit yang beragam, ia menjadi lumpuh. Tubuhnyatidak mampu lagi digerakkan sama sekali. Semua dokter yang menanganinya mengatakan kepada Dr.Khalid, kalau kemungkinan kesembuhan untuk pemuda itu sekitar 10% saja.

Pada saat Dr.Khalid membesuknya di rumah sakit, ia melihat pemuda itu tak berdaya diatas ranjangnya. Dr.Khalaid datang untuk menghiburnya. Namun Subhanallah, apa yang ia dapatkan justru sebaliknya, wajah pemuda it cerah jauh dari mendung kedukaan. Pada wajah itu jelas sekali terpancar cahaya dan kilauan iman.

”Alhamdulillah, sya dalam leadaan sehat-sehat saja. Sya berdoa kepada Allah Subhanaahuwataa’ala semoga Anda lekas sembuh.” kata Dr.Khalid membuka pembicaraan. Di luar dugaan pemuda itu menjawab,”Terimakasih untuk doamu. Sesunggunya saudaraku mungikn saat ini Allah tengah menghukumku karena lalai dalam menghafal Al-Qur’an. Allah menguji saya, agar saya segera menuntaskan hafalan saya. Sungguh ini adalah nikmat yang tiada terkira.”

Dr.Kahlid terpana mendengar jawaban menakjubkan itu. Bagaimna mungkin cobaan begitu berat yang tengah dialami pemuda itu dianggap sebagai suatu nikmat? Benar-benar ini adalah suatu pelajaran baru yang amat berharga bagi dirinya sehingga ia merasa tak berharga dihadapan pemuda itu.

Dr.kahlid teringat akan sabda Rasulullah Sallallahu A’laihi Wassallam : ” Sungguh menggumkn perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya mengandung kebaikan. Hal ini hanya ada pada seorang mukmin. Ketika ia dikaruniai kesengangan ia bersyukur, maka hal iti baik baginya. Dan ketika ia ditimpa kesedihan, ia menghadapinya dengan sabar dan tabah, maka hal itu baik baginya.” (Riwayat Muslim)

Jujur saja Dr.Kahalid teramat mengagumi ketabahan pemuda itu. Beberapa pekan kemudian ia membesuk sahabatnya itu, sepupu sang pemuda berkata,”Coba gerakkan kakimu, coba angkat kakimu ke atas.” Peuda itu menjawab,”Sungguh saya amat malu kepada Allah untuk terburu-buru sembuh. Jika kesembuhan itu yang terbaik bai Allah, aku bersyukur. Namun, apabila Allah tidak memberikan kesembuhan padaku hanya agfar aku tidak melangkah ke tempat-tempat maksiat aku pun bersyukur. Allah Amha Tau yang terbaik untukku.

Allahu Akbar, betapa kaimaat itu sangat menggetarkan. Setelah peristiwa itu Dr.khalid menempuh progrmmagisternya ke luar kota. Beberapa bulan setelah itu ia kembalidan yang pertama diingatnya adalah pemuda sahabatnya itu. Dalam benaknya ia berpikir,”Paling saat ini ia sedang terbaring lemah di atas kasurnya, jika ia kemana-mana pastilah ia digotong.”

Ternyata menurut teman-temannya pemuda itu sudah pindah ke ruang penyiapan untuk mendapatkan pengobatan alami. Pada saat Dr.Khalid menemuinya, ia tengah duduk di kursi roda. Dr.Khalid senagng sekali melihatnya hingga berkali-kali ia mengucapkan syukur.

Pemuda itu dengan spontan menyampaikankabar gembira yang tak terduga ”Alhamdulillah saya telah menyelesaikan bacaan Al-Qur’an.” katanya penuh semangat. ”Subhanallah” Dr.Khalid memekik kagum. Setiap kali membesuknya ia selalu mendapat hikmah yang semakin mempertebal keimanannya.

Tidak lama berselang, Dr.Khalid kembali pergi ke luar kota selama empat bulan. Dan selama itu pula ia tidak pernah bertemu dengan pemuda sahabatnya yang sangat tabah itu. Hingga saat ia kembali, ia menerima kenyataan yang amat sulit diterima oleh akal manusia. Namun, bagi Dzat yang Maha Tinggi, bukanlah hal yang mustahil terjadi. Jangankan hanya sakit, tulang-belulang yang telah hancur pun bisa dihidupka kembali menjadi manusia yang utuh.

Pada waktu Dr.Khalid sedang shalat di mushalla rumah sakit itu. Tiba-tiba ia mendengar sapaan seseorang, ”Abu Muhammad!” Reflek dia menoleh dan pandangan di hapannya membuatnya terpana. Ia tak mapu mengucap sepatah kata pun. Benar, Wallahi (Demi Allah-red) yang berdiri di hadapannya adalah pemuda sahabatnya yang dulu lumpuh total. Namun di hadapannya kini ia dapat berjalankembali dengan normal dan segar bugar. Allahu Akbar, sesungguhnya keimanan lah yang dapat memunculkan keajaiban.

Spontanitas, Dr. Khalid menangis. Pertama dia menangis karena terharu dan senang akan karunia Allah berupa kesembuhan untuk sahabatnya itu. Kedua ia menangis untuk dirinya sendiri yang selama ini lalai untuk mensyukuri nikmat-nikmatNya.

Ternyata, karunia untuk sahabatnya tidak hanya sebatas itu. Ia diterima sebagai delegasi Universitas Malik Su’ud Riyadh, kerajaan Saudi Arabia untuk melanjutkan studi magisternya. ”Dr. Khalid apa yang saya terima ini justru akan menjadi malapetaka bagi saya jika saya tidak mensyukurinya.” Paparnya kepada Dr.Khalid

Setelah tujuh tahun, pemuda itu mengunjungi Dr. Khalid kembali dalam rangka mengantar kakeknya yang terkena penyakit hati. Dan Subhanallah, ia telah menjadi seorang mayor!

Dr.Khalid kembali meneteskan airmatanya. Ia berdoa kepada Allah agar pemuda itu selalu dalam kebaikan dan selalu istiqomah di dalam iman dan islam. Sungguh Allah Maha Mendengar dan Mengabulkan permohonan setiap hambaNya.

(Ummu Faros, dari penjagaan Allah kepada hamba-hambaNya yang shalih; Khalid Abu Shalih )

Diambil dari : Majalah Elfata, Volume 07 2007, Kasih sayang di Bulan Suro.

Antara Berbakti Kepada Orang Tua dan Taat Kepada Suami

Penulis : Al-Ustadzah Ummu Ishaq Al-Atsariyyah





Memilih antara menuruti keinginan suami atau tunduk kepada perintah orangtua merupakan dilema yang banyak dialami kaum wanita yang telah menikah. Bagaimana Islam mendudukkan perkara ini?

Seorang wanita apabila telah menikah maka suaminya lebih berhak terhadap dirinya daripada kedua orangtuanya. Sehingga ia lebih wajib menaati suaminya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
“Maka wanita yang shalihah adalah wanita yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada (bepergian) dikarenakan Allah telah memelihara mereka…” (An-Nisa’: 34)
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam haditsnya:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرْتَ إِلَيْهَا سَرَّتْكَ، وَإِذَا أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ، وَإِذَا غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِي نَفْسِهَا وَمَالِكَ
“Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasannya adalah wanita yang shalihah. Bila engkau memandangnya, ia menggembirakan (menyenangkan)mu. Bila engkau perintah, ia menaatimu. Dan bila engkau bepergian meninggalkannya, ia menjaga dirinya (untukmu) dan menjaga hartamu1.”
Dalam Shahih Ibnu Abi Hatim dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا صَلَتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَصَنَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ بَعْلَهَا، دَخَلَتْ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شَاءَتْ
“Apabila seorang wanita mengerjakan shalat lima waktunya, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia inginkan2.”
Dalam Sunan At-Tirmidzi dari Ummu Salamah x, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا رَاضٍ عَنْهَا دَخَلَتِ الْجَنَّةَ
“Wanita (istri) mana saja yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha kepadanya niscaya ia akan masuk surga.”
At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan3.”
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ كُنْتُ آمِرًا لِأَحَدٍ أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya.”
Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits ini hasan4.” Diriwayatkan pula oleh Abu Dawud dan lafadznya:
لَأَمَرْتُ النِّسَاءَ أَنْ يَسْجُدْنَ لِأَزْوَاجِهِنَّ، لِمَا جَعَلَ اللهُ عَلَيْهِنَّ مِنَ الْحُقُوْقِ
“…niscaya aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suami mereka dikarenakan kewajiban-kewajiban sebagai istri yang Allah bebankan atas mereka.”5
Dalam Al-Musnad dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لاَ يَصْلُحُ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ، وَلَوْ صَلَحَ لِبَشَرٍ أَنْ يَسْجُدَ لِبَشَرٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا مِنْ عِظَمِ حَقِّهِ عَلَيْهَا، وَاَّلذِي نَفْسِيْ بِيَدِهِ لَوْ كَانَ مِنْ قَدَمِهِ إِلَى مَفْرَقِ رَأْسِهِ قَرْحَةً تَجْرِي بِالْقَيْحِ وَالصَّدِيْدِ، ثُمَّ اسْتَقْبَلَتْهُ فَلحسَتْهُ مَا أَدّّتْ حَقَّهُ
“Tidaklah pantas bagi seorang manusia untuk sujud kepada manusia yang lain. Seandainya pantas/boleh bagi seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya dikarenakan besarnya hak suaminya terhadapnya. Demi Zat yang jiwaku berada di tangannya, seandainya pada telapak kaki sampai belahan rambut suaminya ada luka/borok yang mengucurkan nanah bercampur darah, kemudian si istri menghadap suaminya lalu menjilati luka/borok tersebut niscaya ia belum purna menunaikan hak suaminya.”6
Dalam Al-Musnad dan Sunan Ibni Majah, dari Aisyah x dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
لَوْ أَمَرْتُ أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَلَوْ أَنَّ رَجُلاً أَمَرَ امْرَأَتَهُ أَنْ تَنْقُلَ مِنْ جَبَلٍ أَحْمَرَ إِلَى جَبَلٍ أَسْوَدَ، وَمِنْ جَبَلٍ أَسْوَدَ إِلَى جَبَلٍ أَحْمَرَ لَكاَنَ لَهَا أَنْ تَفْعَلَ
“Seandainya aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada seorang yang lain niscaya aku akan memerintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Seandainya seorang suami memerintahkan istrinya untuk pindah dari gunung merah menuju gunung hitam dan dari gunung hitam menuju gunung merah maka si istri harus melakukannya.”7
Demikian pula dalam Al-Musnad, Sunan Ibni Majah, dan Shahih Ibni Hibban dari Abdullah ibnu Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
لمَاَّ قَدِمَ مُعَاذٌ مِنَ الشَّام ِسَجَدَ لِلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ: مَا هذَا يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: أَتَيْتُ الشَّامَ فَوَجَدْتُهُمْ يَسْجُدُوْنَ لِأَسَاقِفَتِهِمْ وَبَطَارِقَتِهِمْ، فَوَدِدْتُ فِي نَفْسِي أَنْ تَفْعَلَ ذَلِكَ بِكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ .فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: لاَ تَفْعَلُوا ذَلِكَ، فَإِنِّي لَوْ كُنْتُ آمِرًا أَحَدًا أَنْ يَسْجُدَ لِغَيْرِ اللهِ لَأَمَرْتُ الْمَرْأَةَ أَنْ تَسْجُدَ لِزَوْجِهَا، وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَ تُؤَدِّي الْمَرْأَةُ حَقَّ رَبِّهَا حَتَّى تُؤَدِّيَ حَقَّ زَوْجِهَا، وَلَوْ سَأََلَهَا نَفْسَهَا وَهِيَ عَلَى قَتَبٍ لَمْ تَمْنَعْهُ
Tatkala Mu’adz datang dari bepergiannya ke negeri Syam, ia sujud kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau menegur Mu’adz, “Apa yang kau lakukan ini, wahai Mu’adz?”
Mu’adz menjawab, “Aku mendatangi Syam, aku dapati mereka (penduduknya) sujud kepada uskup mereka. Maka aku berkeinginan dalam hatiku untuk melakukannya kepadamu, wahai Rasulullah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan engkau lakukan hal itu, karena sungguh andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada selain Allah niscaya aku perintahkan istri untuk sujud kepada suaminya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, seorang istri tidaklah menunaikan hak Rabbnya sampai ia menunaikan hak suaminya. Seandainya suaminya meminta dirinya dalam keadaan ia berada di atas pelana (hewan tunggangan) maka ia tidak boleh menolaknya8.”
Dari Thalaq bin Ali, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا رَجُلٍ دَعَا زَوْجَتَهُ لِحَاجَتِهِ فَلْتَأْتِهِ وَلَوْ كَانَتْ عَلَى التَّنُّوْرِ
“Suami mana saja yang memanggil istrinya untuk memenuhi hajatnya9 maka si istri harus/wajib mendatanginya (memenuhi panggilannya) walaupun ia sedang memanggang roti di atas tungku api.”
Diriwayatkan oleh Abu Hatim dalam Shahih-nya dan At-Tirmidzi, ia berkata, “Hadits ini hasan10.”
Dalam kitab Shahih (Al-Bukhari) dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِذَا دَعَا الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ إِلَى فِرَاشِهِ فَأَبَتْ أَنْ تَجِيْئَ، فَبَاتَ غَضْبَانَ عَلَيْهَا، لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تُصْبِحَ
“Apabila seorang suami memanggil istrinya ke tempat tidurnya, namun si istri menolak untuk datang, lalu si suami bermalam (tidur) dalam keadaan marah kepada istrinya tersebut, niscaya para malaikat melaknat si istri sampai ia berada di pagi hari.”11
Hadits-hadits dalam masalah ini banyak sekali dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu berkata, “Suami adalah tuan (bagi istrinya) sebagaimana tersebut dalam Kitabullah.” Lalu ia membaca firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ
“Dan keduanya mendapati sayyid (suami) si wanita di depan pintu.” (Yusuf: 25)
Umar ibnul Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata, “Nikah itu adalah perbudakan. Maka hendaklah salah seorang dari kalian melihat/memerhatikan kepada siapa ia memperbudakkan anak perempuannya.”
Dalam riwayat At-Tirmidzi dan selainnya dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عِنْدَكُمْ عَوَانٌ
“Berwasiat kebaikanlah kalian kepada para wanita/istri karena mereka itu hanyalah tawanan di sisi kalian.”12
Dengan demikian seorang istri di sisi suaminya diserupakan dengan budak dan tawanan. Ia tidak boleh keluar dari rumah suaminya kecuali dengan izin suaminya baik ayahnya yang memerintahkannya untuk keluar, ataukah ibunya, atau selain kedua orangtuanya, menurut kesepakatan para imam.
Apabila seorang suami ingin membawa istrinya pindah ke tempat lain di mana sang suami menunaikan apa yang wajib baginya dan menjaga batasan/hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam perkara istrinya, sementara ayah si istri melarang si istri tersebut untuk menuruti/menaati suami pindah ke tempat lain, maka si istri wajib menaati suaminya, bukannya menuruti kedua orangtuanya. Karena kedua orangtuanya telah berbuat zalim. Tidak sepantasnya keduanya melarang si wanita untuk menaati suaminya. Tidak boleh pula bagi si wanita menaati ibunya bila si ibu memerintahnya untuk minta khulu' kepada suaminya atau membuat suaminya bosan/jemu hingga suaminya menceraikannya. Misalnya dengan menuntut suaminya agar memberi nafkah dan pakaian (melebihi kemampuan suami) dan meminta mahar yang berlebihan13, dengan tujuan agar si suami menceraikannya. Tidak boleh bagi si wanita untuk menaati salah satu dari kedua orangtuanya agar meminta cerai kepada suaminya, bila ternyata suaminya seorang yang bertakwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam urusan istrinya. Dalam kitab Sunan yang empat14 dan Shahih Ibnu Abi Hatim dari Tsauban radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا الطَّلاَقَ مِنْ غَيْرِ مَا بَأْس َفَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّةِ
“Wanita mana yang meminta cerai kepada suaminya tanpa ada apa-apa15 maka haram baginya mencium wanginya surga.”16
Dalam hadits yang lain:
الْمُخْتَلِعَاتُ وَالْمُنْتَزِعَاتُ هُنَّ الْمُنَافِقَاتُ
“Istri-istri yang minta khulu’17 dan mencabut diri (dari pernikahan) mereka itu wanita-wanita munafik.”18
Adapun bila kedua orangtuanya atau salah satu dari keduanya memerintahkannya dalam perkara yang merupakan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, misalnya ia diperintah untuk menjaga shalatnya, jujur dalam berucap, menunaikan amanah dan melarangnya dari membuang-buang harta dan bersikap boros serta yang semisalnya dari perkara yang Allah l dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan atau yang dilarang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk dikerjakan, maka wajib baginya untuk menaati keduanya dalam perkara tersebut. Seandainya pun yang menyuruh dia untuk melakukan ketaatan itu bukan kedua orangtuanya maka ia harus taat. Apalagi bila perintah tersebut dari kedua orangtuanya.
Apabila suaminya melarangnya dari mengerjakan apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala perintahkan atau sebaliknya menyuruh dia mengerjakan perbuatan yang Allah Subhanahu wa Ta’ala larang maka tidak ada kewajiban baginya untuk taat kepada suaminya dalam perkara tersebut. Karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
إِنَّهُ لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Khaliq.”19
Bahkan seorang tuan (ataupun raja) andai memerintahkan budaknya (ataupun rakyatnya/orang yang dipimpinnya) dalam perkara maksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, tidak boleh bagi budak tersebut menaati tuannya dalam perkara maksiat. Lalu bagaimana mungkin dibolehkan bagi seorang istri menaati suaminya atau salah satu dari kedua orangtuanya dalam perkara maksiat? Karena kebaikan itu seluruhnya dalam menaati Allah l dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebaliknya kejelekan itu seluruhnya dalam bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (Majmu’atul Fatawa, 16/381-383). Wallahu a’lam bish-shawab.

1 HR. Ahmad (2/168) dan Muslim (no. 3628), namun hanya sampai pada lafadz:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.”
Selebihnya adalah riwayat Ahmad dalam Musnad-nya (2/251, 432, 438) dan An-Nasa’i. Demikian pula Al-Baihaqi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata:
قِيْلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ النِّساَءِ خَيْرٌ؟ قَالَ: الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ، وَتُطِيْعُهُ إِذَا أَمَرَ، وَلاَ تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَلَا فِي مَالِهِ بِمَا يَكْرَهُ
Ditanyakan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Wanita (istri) yang bagaimanakah yang paling baik?” Beliau menjawab, “Yang menyenangkan suaminya bila suaminya memandangnya, yang menaati suaminya bila suaminya memerintahnya, dan ia tidak menyelisihi suaminya dalam perkara dirinya dan tidak pula pada harta suaminya dengan apa yang dibenci suaminya.” (Dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Irwa’ul Ghalil no. 1786)
2 Dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Al-Jami’ Ash-Shaghir, no. 660.
3 HR. At-Tirmidzi no. 1161 dan Ibnu Majah no. 1854, didhaifkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Dha'if Sunan At-Tirmidzi dan Dhaif Sunan Ibni Majah.
4 HR. At-Tirmidzi no. 1159 dan Ibnu Majah no. 1853, kata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, “Hasan Shahih.”
5 HR. Abu Dawud no. 2140, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Abi Dawud.
6 HR. Ahmad (3/159), dishahihkan Al-Haitsami (4/9), Al-Mundziri (3/55), dan Abu Nu’aim dalam Ad-Dala’il (137). Lihat catatan kaki Musnad Al-Imam Ahmad (10/513), cet. Darul Hadits, Al-Qahirah.
7 HR. Ahmad (6/76) dan Ibnu Majah no. 1852, didhaifkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Dha’if Sunan Ibni Majah.
8 HR. Ahmad (4/381) dan Ibnu Majah no. 1853, kata Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Ibni Majah, “Hasan Shahih.” Lihat pula Ash-Shahihah no. 1203.
9 Kinayah dari jima'. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ar-Radha’, bab Ma Ja’a fi Haqqiz Zauj alal Mar’ati)
10 HR. At-Tirmidzi no. 1160 dan Ibnu Hibban no. 1295 (Mawarid), dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, Al-Misykat no. 3257 dan Ash-Shahihah no. 1202.
11 HR. Al-Bukhari no. 5193.
12 HR. At-Tirmidzi no. 1163 dan Ibnu Majah no. 1851, dihasankan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi dan Shahih Sunan Ibni Majah.
13 Misalnya maharnya tidak tunai diberikan oleh sang suami saat akad namun masih hutang, dan dijanjikan di waktu mendatang setelah pernikahan.
14 Yaitu Sunan At-Tirmidzi, Sunan Abi Dawud, Sunan An-Nasa’i, dan Sunan Ibnu Majah.
15 Lafadz: ((مِنْ غَيْرِ مَا بَأْس)) maksudnya tanpa ada kesempitan yang memaksanya untuk meminta pisah. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thalaq wal Li'an, bab Ma Ja’a fil Mukhtali'at)
16 HR. At-Tirmidzi no. 1187, Abu Dawud no. 2226, Ibnu Majah no. 2055, dan Ibnu Hibban no. 1320 (Mawarid), dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi, dll.
17 Tanpa ada alasan yang menyempitkannya. (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thalaq wal Li’an, bab Ma Ja’a fil Mukhtali’at)
18 HR. Ahmad 2/414 dan Tirmidzi no. 1186, dishahihkan Al-Imam Al-Albani rahimahullahu dalam Shahih Sunan Tirmidzi, Ash-Shahihah no. 633, dan Al-Misykat no. 3290. Mereka adalah wanita munafik yaitu bermaksiat secara batin, adapun secara zahir menampakkan ketaatan. Ath-Thibi berkata, “Hal ini dalam rangka mubalaghah (berlebih-lebihan/sangat) dalam mencerca perbuatan demikian.” (Tuhfatul Ahwadzi, kitab Ath-Thalaq wal Li’an, bab Ma Ja’a fil Mukhtali’at)
19 HR. Ahmad 1/131, kata Syaikh Ahmad Syakir rahimahullahu dalam ta’liqnya terhadap Musnad Al-Imam Ahmad, “Isnadnya shahih.”

http://asysyariah.com/syariah.php?menu=detil&id_online=754

MANHAJ (JALAN) GOLONGAN YANG SELAMAT

Oleh : Syaikh Muhammad Jamil Zainu ( Pengajar di Darul Hadits Madinah)

Golongan Yang Selamat ialah golongan yang setia mengikuti manhaj Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam hidupnya, serta manhaj para sahabat sesudahnya.

* Yaitu Al-Qur’anul Karim yang diturunkan Allah kepada Rasul-Nya, yang beliau jelaskan kepada para sahabatnya dalam hadits-hadits shahih. Beliau memerintahkan umat Islam agar berpegang teguh kepada keduanya:
“Aku tinggalkan padamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku. Tidak akan bercerai-berai sehingga keduanya menghantarku ke telaga (Surga).” (Di-shahih-kan Al-Albani dalam kitab Shahihul Jami’)

Golongan Yang Selamat akan kembali (merujuk) kepada Kalamullah dan RasulNya tatkala terjadi perselisihan dan pertentangan di antara mereka,

sebagai realisasi dari firman Allah:
“Kemudian jika kamu berselisih tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan Hari Kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibat-nya.” (An-Nisaa’: 59)

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (An-Nisaa’: 65)

Golongan Yang Selamat tidak mendahulukan perkataan seseorang atas Kalamullah dan RasulNya,

realisasi dari firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan RasulNya dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguh-nya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Hujurat: 1)
Ibnu Abbas berkata:
“Aku mengira mereka akan binasa. Aku mengatakan, ‘Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda, sedang mereka mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata’.” (HR. Ahmad dan Ibnu ‘Abdil Barr)

Golongan Yang Selamat senantiasa menjaga kemurnian tauhid.

Mengesakan Allah dengan beribadah, berdo’a dan memohon pertolongan baik dalam masa sulit maupun lapang, menyembelih kurban, bernadzar, tawakkal, berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah dan berbagai bentuk ibadah lain yang semuanya menjadi dasar bagi tegaknya Daulah Islamiyah yang benar. Menjauhi dan membasmi berbagai bentuk syirik dengan segala simbol-simbolnya yang banyak ditemui di negara-negara Islam, sebab hal itu merupakan konsekuensi tauhid. Dan sungguh, suatu golongan tidak mungkin mencapai kemenangan jika ia meremehkan masalah tauhid, tidak membendung dan memerangi syirik dengan segala bentuknya. Hal-hal di atas merupakan teladan dari para rasul dan Rasul kita Muhammad Shallallahu’alaihi wasallam.

Golongan Yang Selamat senang menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah, baik dalam ibadah, perilaku dan dalam segenap hidupnya.

Karena itu mereka menjadi orang-orang asing di tengah kaumnya, sebagaimana disabdakan oleh Nabi:
“Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (HR. Muslim)
Dalam riwayat lain disebutkan:
“Dan keuntungan besar bagi orang-orang yang asing. Yaitu orang-orang yang (tetap) berbuat baik ketika manusia sudah rusak.” (Al-Albani berkata, “Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Amr Ad-Dani dengan sanad shahih”)

Golongan Yang Selamat tidak berpegang kecuali kepada Kalamullah dan Kalam RasulNya yang maksum, yang berbicara dengan tidak mengikuti hawa nafsu.

Adapun manusia selainnya, betapapun tinggi derajatnya, terkadang ia melakukan kesalahan, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu’alaihi wasallam:
“Setiap bani Adam (pernah) melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.” (Hadits hasan riwayat Imam Ahmad)
Imam Malik berkata, “Tak seorang pun sesudah Nabi Shallallahu’alaihi wasallam melainkan ucapannya diambil atau ditinggalkan (ditolak) kecuali Nabi Shallallahu’alaihi wasallam (yang ucapannya selalu diambil dan diterima).”

Golongan Yang Selamat adalah para ahli hadits.

Tentang mereka Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
“Senantiasa ada segolongan dari umatku yang memperjuangkan kebenaran, tidak membahayakan mereka orang yang menghinakan mereka sehingga datang keputusan Allah.” (HR. Muslim)
Seorang penyair berkata, “Ahli hadits itu, mereka ahli (keluarga) Nabi, sekalipun mereka tidak bergaul dengan Nabi, tetapi jiwa mereka bergaul dengannya.
Golongan Yang Selamat menghormati para imam mujtahidin, tidak fanatik terhadap salah seorang di antara mereka.
Golongan Yang Selamat mengambil fiqih (pemahaman hukum-hukum Islam) dari Al-Qur’an, hadits-hadits yang shahih, dan pendapat-pendapat imam mujtahidin yang sejalan dengan hadits shahih. Hal ini sesuai dengan wasiat mereka, yang menganjurkan agar para pengikutnya mengambil hadits shahih, dan meninggalkan setiap pendapat yang bertentangan dengannya.

Golongan Yang Selamat menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar.

Mereka melarang segala jalan bid’ah dan sekte-sekte yang menghancurkan serta memecah belah umat. Baik bid’ah dalam hal agama maupun dalam hal sunnah Rasul dan para sahabatnya.

Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan para sahabatnya.

Sehingga mereka mendapatkan pertolongan dan masuk Surga atas anugerah Allah dan syafa’at Rasulullah dengan izin Allah.

Golongan Yang Selamat mengingkari peraturan perundang-undangan yang dibuat oleh manusia apabila undang-undang tersebut bertentangan dengan ajaran Islam.
Golongan Yang Selamat mengajak manusia berhukum kepada Kitabullah yang diturunkan Allah untuk kebahagiaan manusia di dunia dan di akhirat.

Allah Maha Mengetahui sesuatu yang lebih baik bagi mereka. Hukum-hukumNya abadi sepanjang masa, cocok dan relevan bagi penghuni bumi sepanjang zaman.
Sungguh, sebab kesengsaraan dunia, kemerosotan, dan mundurnya khususnya dunia Islam, adalah karena mereka meninggalkan hukum-hukum Kitabullah dan sunnah Rasulullah. Umat Islam tidak akan jaya dan mulia kecuali dengan kembali kepada ajaran-ajaran Islam, baik secara pribadi, kelompok maupun secara pemerintahan. Kembali kepada hukum-hukum Kitabullah, sebagai realisasi dari firmanNya:
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar-Ra’ad: 11)

Golongan Yang Selamat mengajak seluruh umat Islam berjihad di jalan Allah.

Jihad adalah wajib bagi setiap Muslim sesuai dengan kekuatan dan kemampuannya.

Jihad dapat dilakukan dengan:

* Pertama, jihad dengan lisan dan tulisan: Mengajak umat Islam dan umat lainnya agar berpegang teguh dengan ajaran Islam yang shahih, tauhid yang murni dan bersih dari syirik yang ternyata banyak terdapat di negara-negara Islam. Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam telah memberitakan tentang hal yang akan menimpa umat Islam ini. Beliau bersabda:
“Hari Kiamat belum akan tiba, sehingga kelompok-kelompok dari umatku mengikuti orang-orang musyrik dan sehingga kelompok-kelompok dari umatku menyembah berhala-berhala.” (Ha-dits shahih , riwayat Abu Daud, hadits yang semakna ada dalam riwayat Muslim)
* Kedua, jihad dengan harta: Menginfakkan harta buat penyebaran dan peluasan ajaran Islam, mencetak buku-buku dakwah ke jalan yang benar, memberikan santunan kepada umat Islam yang masih lemah iman agar tetap memeluk agama Islam, memproduksi dan membeli senjata-senjata dan peralatan perang, memberikan bekal kepada para mujahidin, baik berupa ma-kanan, pakaian atau keperluan lain yang dibutuhkan.
* Ketiga , jihad dengan jiwa:Bertempur dan ikut berpartisipasi di medan peperangan untuk kemenangan Islam. Agar kalimat Allah ( Laa ilaaha illallah) tetap jaya sedang kalimat orang-orang kafir (syirik) menjadi hina. Dalam hu-bungannya dengan ketiga perincian jihad di atas, Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam mengisyaratkan dalam sabdanya:
“Perangilah orang-orang musyrik itu dengan harta, jiwa dan lisanmu.” (HR. Abu Daud, hadits shahih)

Adapun hukum jihad di jalan Allah adalah:

* Pertama , fardhu ‘ain : Berupa perlawanan terhadap musuh-musuh yang melakukan agresi ke beberapa negara Islam wajib dihalau. Agresor-Agresor Yahudi misalnya, yang merampas tanah umat Islam di Palestina. Umat Islam yang memiliki kemampuan dan kekuatan jika berpangku tangan ikut berdosa, sampai orang-orang Yahudi terkutuk itu enyah dari wilayah Palestina. Mereka harus berupaya mengembalikan Masjidil Aqsha ke pangkuan umat Islam dengan kemampuan yang ada, baik dengan harta maupun jiwa.
* Kedua, fardhu kifayah: Jika sebagian umat Islam telah ada yang melakukannya maka sebagian yang lain kewajibannya menjadi gugur. Seperti dakwah mengembangkan misi Islam ke negara-negara lain, sehingga berlaku hukum-hukum Islam di segenap penjuru dunia. Barangsiapa menghalangi jalan dakwah ini, ia harus diperangi, sehingga dakwah Islam dapat berjalan lancar.

Wallahu ta’ala a’lam

PENAMPILAN ITU ADALAH SYI’AR ISLAM, BUKAN CIRI-CIRI TERORIS!!

Penulis: Al-Ustadz Abu ‘Amr Ahmad


Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menurunkan syari’at Islam dengan sempurna dan meliputi segala hal, berlaku untuk semua zaman, semua tempat, dan dalam semua kondisi. Baik dalam bidang aqidah, ibadah, akhlaq sopan santun, cara berpenampilan dan berpakaian, cara bermuamalah antar sesama, dan banyak lagi. Semuanya telah lengkap dan sempurna.

Syari’at Islam ada yang bersifat batin/tidak tampak, ada pula yang bersifat zhahir/tampak. Semuanya merupakan bagian dari syari’at Islam yang harus diamalakan oleh setiap individu muslim. Syi’ar-syi’ar Islam harus dihormati dan dijunjung tinggi. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ [الحج/32]

Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketaqwaan hati. (Al-Hajj : 32)

Di antara aturan syari’at Islam yang penuh rahmat ini adalah cara berpenampilan. Islam telah memberikan ketentuan bagi kaum mukminin dan mukminah dalam cara berpenampilan dan berpakaian.

Terkait dengan mukminin Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إزرة المسلم إلى نصف الساق ولا حرج أو لا جناح فيما بينه وبين الكعبين ما كان أسفل من الكعبين فهو في النار من جر إزاره بطرا لم ينظر الله إليه

(Batas panjang) pakaian (sarung, gamis, celana) seorang muslim adalah sampai pertengahan betis, dan tidak mengapa jika sampai antara pertengahan betis dengan dua mata kaki. Kain yang (dipanjangkan sampai) berada di bawah mata kaki maka itu di neraka. Barangsiapa yang menjulurkan sarung (melebihi mata kaki) karena sombong maka Allah tidak akan melihat kepadanya. (HR. Abu Dawud 4093).

Hadits ini menunjukkan bahwa cara berpakaian seorang muslim harus di atas mata kaki, tidak boleh di bawah mata kaki. Ini ketentuan syari’at Islam sekaligus ini merupakan ajaran junjungan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Barangsiapa yang berani melanggar ketentuan ini dengan sengaja maka dia diancam dengan neraka. Jika melanggar aturan ini karena sombong, maka ancamannya lebih besar lagi.

Seorang muslim yang cinta ajaran Nabinya, cinta agama Islam, tunduk dan patuh kepada perintah Allah ‘Azza wa Jalla, maka pasti dia akan memperhatikan aturan syari’at Islam yang satu ini. Dengan tanpa malu atau gengsi ia akan berpenampilan dengan pakaian (sarung, gamis, celana) di atas mata kaki atau setengah betis.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang berjenggot lebat dan berambut tebal. Ini merupakan teladan dari beliau dalam berpenampilan. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk berjenggot. Beliau bersabda :

« قصوا الشوارب وأعفوا اللحى خالفوا المشركين »

Potonglah kumis-kumis (kalian) dan panjangkanlah jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum musyrikin. (Muttafaqun ‘alaihi)




Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga bersabda :

« جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس »

Pangkaslah kumis-kumis (kalian) dan biarkan panjang jenggot-jenggot (kalian), berbedalah kalian dengan penampilan kaum majusi. (Muttafaqun ‘alaihi)

Hadits di atas menunjukkan kewajiban memanjangkan jenggot sekaligus menunjukkan haram menggunting atau mencukur jenggot. Ini adalah perintah dan larangan langsung dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Demikian juga, Islam sebagai syari’at yang lengkap dan sempurna, pembawa rahmat bagi alam semesta, sangat menghargai dan menjaga kehormatan kaum wanita. Jangan sampai mereka menjadi mangsa pihak-pihak tidak bertanggungjawab. Di antara bentuk penjagaan Islam terhadap kaum wanita adalah mereka diwajibkan mengenakan pakaian yang menutupi seluruh aurat mereka, mulai dari rambut, leher, tengkuk, dada, punggung, kaki, dan seluruh anggota tubuh mereka. Perintah ini Allah tegaskan dalam Al-Qur`an pada surat An-Nur : 31 dan surat Al-Ahzab : 59. Sebagai generasi yang taat, tunduk, dan patuh kepada perintah Allah dan Rasul-Nya para istri Nabi dan para shahabiyyah segera melaksanakan perintah tersebut. Islam mempersyarakatkan baju yang dikenakan tersebut harus menutupi seluruh tubuh, lebar, tidak ketat atau transparan, tidak berwarna mencolok atau menarik, dan beberapa kriteria lainnya.

Termasuk yang juga harus ditutup oleh kaum wanita adalah wajah. Ibunda kaum mukminin, ‘Aisyah radhiyallahu’anha mengatakan :

“Para pengendara (laki-laki) melewati kami, ketika kami (para wanita) berhaji bersama-sama Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam. Maka ketika mereka (para pengendara laki-laki tersebut) telah dekat, masing-masing kami menurunkan jilbabnya dari kepalanya sampai menutupi wajahnya. Jika mereka telah melewati kami, maka kami membuka wajah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah dan lain-lain).

Beberapa ketentuan terkait penampilan dan pakaian di atas merupakan ketentuan syari’at Islam dan merupakan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentu saja itu menjadi ciri khas bagi kaum muslimin yang taat menjalankan ajaran syari’at, cinta kepada bimbingan Nabinya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Penampilan Islami tersebut merupakan ciri-ciri orang yang bertaqwa, ciri orang yang shalih, ciri orang yang taat dan cinta pada agama Islam.

Penampilan Islami di atas bukan bikinan kelompok/golongan atau bangsa tertentu, bukan pula ciri khas kelompok atau bangsa tertentu, bukan pula sekedar adat kebiasan masyarakat, bangsa, atau kelompok tertentu. Tapi merupakan aturan syariat Islam, merupakan ketentuan yang berasal dari wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang diajarkan dan disampaikan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sungguh musibah telah menimpa kaum muslimin. Setelah kaum teroris - khawarij mencoreng Islam dan kaum muslimin, mencemarkan nama harum jihad, mereka juga mencemarkan syiar-syiar Islam. Sebagian kaum teroris - khawarij tersebut ternyata menampakkan atribut-atribut Islami di atas, bahkan mereka jadikan atribut Islami tersebut sebagai sarana untuk penyamaran dan melarikan diri!!

Maka timbullah stigma di masyarakat bahwa orang-orang berjenggot, bergamis, bercelana di atas mata kaki, atau istri bercadar berarti adalah teroris, atau sepaham/sealiran dengan teroris, atau minimalnya pro teroris sehingga harus dicurigai dan diselidiki. Sungguh jahat para teroris - khawarij tersebut, akibat ulah mereka syiar Islam yang mulia menjadi tercitrakan jelek.

Yang sangat disesalkan adalah justru sebagaian kaum muslimin sendiri menjadi benci terhadap jenggot, gamis, cadar, dll serta ikutan-ikutan menaruh curiga kepada setiap orang yang mengenakannya. Maka suasana ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang membenci syariat Islam, untuk kembali menghembuskan isu bahwa jenggot, gamis, cadar, dll bukan bagian dari Islam, itu hanya adat arab badui, atau merupakan ciri-ciri kelompok garis keras. Sungguh keyakinan demikian telah menginjak-injak syari’at Islam, dan disadari maupun tidak merupakan pengingkaran terhadap sebagian ajaran Islam. Yang lebih disesalkan adalah justru stigma negatif di atas juga disuarakan oleh orang-orang yang selama ini dianggap sebagai tokoh Islam, atau cendekiawan muslim. Sungguh komentar-komentar mereka tidak memberikan solusi, tapi malah membuat suasana semakin keruh

Sikap sebagian kaum muslimin yang menaruh curiga terhadap segala atribut Islami di atas - bahkan di beberapa daerah sampai pada tindakan main hakim sendiri - bukanlah solusi untuk memberantas terorisme. Justru hal itu menunjukkan ketidakpahaman umat terhadap hakekat terorisme, di sisi lain menunjukkan betapa rapuhnya aqidah umat sehingga sangat mudah dikendalikan oleh media massa dan tokoh-tokoh yang tidak jelas.

Terorisme - Khawarij muncul karena kecintaan yang besar terhadap Islam dan semangat memperjuangkan Islam, namun keluar dari metode yang benar dalam memahami dan mengaplikasikan dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah. Terorisme yang muncul sekarang sebenarnya berakar dan merupakan kelanjutan dari paham sesat khawarij.

Untuk membentengi membentengi diri kita, keluarga kita, anak-anak kita, lingkungan dan masyarakat kita dari paham sesat khawarij maka umat Islam harus kembali merujuk kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah di bawah bimbingan para ‘ulama yang meniti jejak para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).

Segala problem yang menimpa kaum muslimin tidak akan tercabut kecuali jika kaum muslimin mau kembali kepada ajaran agama mereka. Tidak akan menjadi baik kondisi umat di akhir zaman ini kecuali dengan sesuatu yang telah menjadikan baik generasi awal Islam, yaitu berpegang kepada Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan prinsip pemahaman yang benar, yaitu metode pemahaman para salafush shalih (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in).

sumber : http://www.merekaadalahteroris.com/mat/?p=66